Thursday, June 10, 2010

RUANG

..mari bermain dengan ruang mulai sekarang..

Wednesday, June 9, 2010

princess

At her ultimate sanity, she screams out loud at me...

"and you know! i never,, never have plan to fall in love with you!!!"

In the very next second she dropped her body and cried on my chest..

"Listen princess, i do could feel your sorrow, i do could feel your warm tears, and also i do listen to your words clearly. Please ponder this princess, i do love you too.. But i humbly beg you sorry my princess, i'm simply not able to hold you anymore since i am six feet under your feet..."

Tuesday, June 8, 2010

luluh lantak

Tolong sisakan sejumput waktumu untukku kali ini, teman. Sertakan pula telinga dan hati yang lapang untuk aku. Permintaanku akan sangat banyak kali ini dan pengertianmu pula harus lebih dari waktu-waktu silam.

Dengan dasar logikaku yang paling luar biasa aku memulai kisah ini, teman. Aku lepaskan diriku pada satu masa yang sungguh aku pahami akan segenap resikonya. Aku hanyutkan diriku pada jernihnya aliran kisah yang tanpa muara. Aku henyakan separuh jiwaku pada setiap keloknya dan setiap pecahanya, menikmati tiap irisan dan singgungan pada semesta.

Dan ini aku kembali terduduk dihadapmu, teman, dengan sebagian jiwa yang luluh lantak. Bahkan genangan air pada pengelihatanku ini tak pelak lagi aku bendung. Pedih.

Aku terkoyak kali ini. Kembali koyak, teman.

Ada masa yang sama seperti beberapa tahun lalu, masih ingatkah akan masa itu, teman? Waktu itu kamu juga hadir untukku sama seperti masa ini. Masa yang aku kira akan menjadi masa pamungkas dimana aku terjerembab. Masa yang aku anggap akan hanya menimpaku satu kali dalam putaran hidupku. Tapi ternyata aku salah, teman, benar-benar salah. Masa itu hadir kembali saat ini, tepat saat ini.

Namun mengapa kali ini jauh lebih pedih? Padahal sejak awal aku sungguh paham akan datangnya kepedihan ini! Mengapa tetap saja aku tersungkur? Mana kendali logikaku yang sangat luar biasa itu, teman?

Tolong tahirkan aku dari masa ini... Selamatkan aku yang tengah terkapar dalam ruang, waktu dan dimensi yang menyiksa keseluruhanku. Tolong kikis jelaga ini daripadaku karena ia memburamkan akal sehatku.

Katakan hal apa yang dapat aku perbuat untuk menghapuskan masa ini, teman? Tapi sungguh jangan ujarkan padaku bahwa harus 'ku nikmati setiap pedihnya yang menyesakanku... Sebab bila itu 'ku lalukan, ia akan berbanding lurus dengan luapan air mataku.

emansipasi

apa itu emansipasi?

sebentuk kesetaraan gender yang digugat melulu oleh kaum hawa? penggugatan hak yang tidak berbanding lurus dengan kewajiban? mengerti apa kaum hawa ini akan segala gugatannya? jika mereka hanya melulu menggugat hak dan tidak untuk kewajiban yang melekat pada sang emansipasi.

apa itu emansipasi?

akankah emansipasi meluluhlantakkan kodrat yang telah dituliskan oleh Sang Esa? apakah emansipasi sebagai suatu pembenaran untuk sebuah agresivitas kaum hawa? sedangkan konsep dasar sel telur tidak pernah berganti meski masa telah sampai era maya ini. ia tidak pula menggantikan peran sperma; ia tidak berganti menjadi berlari mengejar sesuatu, dan ia tetap diam dimana ia harus bersemayam, juga ia tidak membawa bakal jantung namun membawa keseluruhan organ bagi calon anak manusia. sel telur tetap sebagai sel telur. kodrat diamnya bukan mentakdirkan kaum hawa akan kepasifan, tetapi lebih kebanyakan untuk tetap tenang, bajik dan bijak dalam singasananya.

buah pikir awal tentang emansipasi tentunya tidak bermaksud untuk meniadakan konsep dasar kaum hawa. kesetaraan gender bagi para pencetus pendekar perempuan bukan melulu pada hingar-bingar ribuan gugatan atas hak tanpa disertai kewajiban yang belakangan lebih memarginalkan kaum hawa sendiri. emansipasi yang dipolitisi lebih harus diwaspadai oleh para pendekar perempuan. kembalilah menyusun barisan yang koyak diganyang jaman, kembalilah kepada buah pikir awal emansipasi, tanpa kontaminasi, tanpa kontroversi...

terus berjuang, para pendekar perempuan!

Thursday, June 3, 2010

retoris

"terus kita nikahnya gimana?"

tetap saja pertanyaan itu yang ia lontarkan kepadaku, pertanyaan yang sama semenjak lewat dua tahun menjalin hubungan penjajakan ini. pertanyaan itu sudah aku jawab berulang kali, tapi entah mengapa terus-menerus dipertanyakan lagi olehnya. pikirku, mungkin ia hanya memastikan dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan cara kembali bertanya kepadaku. manusia memang butuh diyakinkan, demikian juga pacarku ini, ia manusia dan butuh diyakinkan.

"pernikahan kan cuma tata cara, prosedur, jadi ya jalanin aja prosedur yang ada."
"tata cara yang mana? kamu ini ya, semua kayak sepele buat kamu!"

mulai menghardik kali ini ia, padahal aku menjawab seluruh pertanyaannya dengan kesabaran tingkat tinggi. keluargaku tidak mensyaratkan apa-apa untuk pernikahan ini, mereka hanya ingin aku menikah supaya hidupku jauh lebih teratur, itu pandangan mereka. keluarganya mensyaratkan banyak hal, prosedural adat dan agama harus dijalankan dengan lengkap dan uniknya mereka sendiri yang abis akal akan dengan tata cara agama apa nantinya pernikahan ini.

"kamu tuh ignorant banget, sih!"

dan dipersalahkan lagi sikapku kali ini, perdebatan panjang telah kami lalui dalam jangka waktu tiga tahun, hanya untuk sebuah tata cara pernikahan dalam agama. sungguh aku bukan tidak peduli, aku peduli dan karena aku peduli maka aku tidak banyak berpendapat, semua yang ia inginkan akan aku amini.

"ah, jadinya akan pake katolik atau apa?"
"kamu dan keluarga kamu lebih pilih pake apa, sayang?"
"aku ga tau, makanya kamu jawab dong..."
"jawabannya kan ada di kamu, sayang"

ia membisu kembali, menerawang mencari jawaban jauh di luar sana atas satu pertanyaan tak terjawab yang sesungguhnya dapat ia jawab pada jutaan detik yang lalu. laki-laki disampingku ini menghela nafasnya panjang, membakar batang rokok berikutnya, menegaskan guratan-guratan pada keningnya lebih dalam. sedangkan aku, aku hanya tersenyum sembari memindai tiap inci wajahnya, menggengam tangannya lekat-lekat dan menunggu jawaban atas pertanyaan retorisnya.

Wednesday, June 2, 2010

peranmu

peranmu ternyata cukup sampai di sini, kecil seperti tak berarti namun indah jika dihayati. ketika dunia ini disuguhkan dihadapku sedemikian rupa sehingga aku tak pernah menyadari satu unsur yang membuat aku tetap hidup, unsur yang terlupakan atau sengaja aku lupakan. unsur yang datang bersama denganmu dalam bilangan waktu yang tiada terduga.

unsur itu yang selama ini membuat aku takut akan keberadaannya, mungkin bukan pada niat dasarnya, namun lebih kepada pengejawantahannya, pelaksanaannya. terlalu jamak intrik yang hadir melebur didalamnya, itu yang selama ini menakutkanku. menghindar, menutup diri dan membangun benteng yang tak tersentuh oleh pihak asing, hanya itu yang dapat aku perbuat untuk menyelamatkan diri. terjangkit unsur itu dapat membuat aku gamang, hilang arah dan akal. pernah aku terjangkit satu kali dan setelahnya aku melindungi diri rapat-rapat agar tidak terjangkit lagi... sampai kamu hadir tanpa sebab.

kamu dan unsur itu ternyata melekat kuat tanpa aku sadari, aku pikir hanya kamu tanpa sang unsur, baru kemudian setelah entah kapan aku mulai menyadarinya ternyata aku sudah sungguh terpesona oleh keelokan unsur itu. kamu menghapuskan kengerianku akan intrik yang biasanya ada, entah mengapa bahkan aku tak kuasa menjabarkannya...

sungguh peranmu hanya itu dan jika kamu adalah utusanNya, sungguh Ia telah menyelamatkan aku dari diriku sendiri. kamu sudah membuat gerbang pada benteng keangkuhanku, kehadiranmu dalam satuan nafasku merobohkan keakuanku yang lalu.

aku tak akan menahanmu lebih lama, aku mengerti benar akan hal itu... karena peranmu telah usai, cukup sampai di sini.

teori

dan benar, jutaan teori yang biasa aku lontarkan pada seluruh sahabatku dalam permasalahan dengan kisah cinta mereka, memang sangat sulit untuk dilaksanakan. teori indah itu tetap indah bersahaja sebagai wacana. dari keseluruhan teori, doktrin yang tersulit untuk dilakukan adalah "membiarkan diri kita menjadi tega akan diri sendiri"; tanpa tapi, tanpa namun, dan tanpa penundaan.

ah, sial! mengapa hati selalu meminta negosiasi?!