selamatkan aku dalam kekakuan ini. hempaskan aku pada semburat pelangi yang menipis ketika matari kembali meredup.. jejalkan aku pada maraknya perayaan revolusi terselip anarkisme atas nama kerakyatan atau setidaknya hujani aku dengan seruan-seruan meriam pada upacara pemakaman.. biarkan aku mencecap nelangsa dimanapun selama tidak di ruang ini.. diamnya menusuk hingga perikatan persendian.. dingin,, hampa.
ia tak serupa itu pada hari lalu, sungguh.. aku mengenalnya dengan sangat di waktu kemarin. kini aku menghadapinya sepanjang detik namun seasing manusia baru yang bertengger di sudut kebangsawanannya. mengerikan..
kami bersama karena pengabdian, kami bersama karena persamaan nasib.. serupa manusia-manusia pembentuk bangsa yang berjuang dalam peperangan mempertahankan wilayah yang terjajah oleh kaum kolonial, ya.. kami bersama saat itu. jangan tanya untuk satuan waktu kini, kami tak ayal serupa dua orang asing dalam kendaraan penghantar ke neraka. diam,, terdiam.
bila aku diperijinkan melakukan sesuatu, aku hanya ingin menghardiknya dengan keseluruahan energi yang ku miliki.. memekikkan hamparan kata penjelasan akan sebuah perjuangan mengenai pengabdian. aku terlunta pada hari lalu.. terombang-ambing dalam pengabdian ini, namun aku tiada tak berjuang melawan sang nasib. dan maaf, sedangkan kamu.. terbahak saja pada keagunganmu itu, lupa bahwa kita sama terlunta. bergeming dalam jubah kemeriahan yang menyilaukan mataku, kesenanganmu menyesakkanku, mengusik relung dengkiku tiada terkira.
saat ini, jangan tunjuk aku telah meninggalkanmu.. lihat kembali ke belakang, tanggalkan kesombonganmu sejenak.. lepaskan tahta keangkuhanmu yang kamu genggam seerat kohesi raksa. koyakkan kemalasanmu dan bangkit dari keterpurukanmu.. jangan salahkan aku dalam diammu..
kamu tahu, diammu atasku adalah kesia-siaan!
*inspired by the awkwardness between me and officemate next to me
jamak anak manusia akan berujar bahwa kumpulan kosa kata ini merupakan dramatisasi dari kisah yang sebenar-benarnya, sangkalan atas gugatan tersebut adalah sebuah pembenaran akan kebebasan berapresiasi di dunia maya
Thursday, December 9, 2010
Wednesday, December 8, 2010
jalang

pekikan "jalang" semalam terus saja terngiang hebat dalam bawah sadarku. terlampir kuat pada rongga telinga dan kembali menghitamkan hati yang telah aku warnai dengan gemerlap kisah dan kasih. aku jalang ujarmu, jalang oleh sebab pengetahuanku akan pekatnya dunia, akan kusamnya masa lalu yang telah aku lontarkan. jalang.. aku jalang untukmu?
jabarkan jalang itu padaku, definisikan dengan rinci, dengan sangat terperinci serupa aku tidak pernah mendengar dan mengerti kata itu. jalangkah aku jika masa itu aku hanya ingin menikmati kenestapaan? jalangkah jika hanya bersama sekelumit teman aku berbagi selimut malam dalam tangis dan kesah? jalangkah aku bila kutorehkan tinta duniawi pada karya agung Tuhan yang dipercayakan padaku semata untuk mengingatkan aku akan getirnya perpisahan dalam keluarga?
hadir dihadapku dan teriakan jalang lagi! tunjukan kejalanganku hari ini, saat ini! mana mukamu, mana suaramu?!! pekikan jalang lagi padaku!! tunjukan durjana itu atas dasar hari ini.. bukan kemarin, bukan masa lalu! sebut aku binatang, sebut aku liar, juluki aku dalam kata apapun yang pernah hadir di muka bumi ini yang terendah dari seluruh golongan kosa kata!
aku berdiri di sini tanpa perisai tanpa tameng, aku telah menduduki otoritamu, mana wajahmu! hina aku detik ini.. jeritkan jalang lagi padaku.. umpatkan, pekikkan dalam histeriamu. lakukan dan jangan sembunyi!
kelamnya masa laluku yang terus kamu gugat, yang terus kamu usik tanpa alas hak, yang melegalisasikan kamu untuk menjuluki aku jalang.. kamu dengar sekarang! masa laluku sepekat langit malam tanpa bintang yang diliputi gerhana bulan. masa laluku tak ubahnya kanvas legam berlukiskan kegetiran milik seorang pesakitan. itu hari laluku.. hari lalu yang menyusun kilauku hari ini, hari lalu yang memantulkan gemerlapku hari ini, hari lalu pendukung gilang-gemilangnya aku hari ini, dan hari lalu pula yang mencerahkan seluk jiwaku sehingga tercitra dalam tiap helai senyum dan syukur atas keakuanku hari ini.
dan kamu sebut aku jalang? hah! pergi dari sudut keagunganmu dan bawa serta dengkimu akan masa lalu.. kejayaanmu tak kurang jalang dari aku! kamu.. luar biasa menyedihkan.
i thank you, pee for the inspiration.
*pic taken from google
Friday, December 3, 2010
5 inci
tinggalkan saja dia, untuk apa kamu termangu di sudut itu larut-larut. berjibaku dengan kesedihan dalam butiran air mata yang mengalir tanpa kendali menjelajahi pipi dan kemudian terjauh ke tanah, menambahkan jumlah polusi air di muka dunia. kelumit apa kali ini yang membebankanmu untuk beranjak? sangatlah aku mengerti bahwa hati yang terkait memiliki yurisdiksi tersendiri, otak dan logika tak mampu mengokupasi yurisdiksi sang hati. berat memang, tak 'ku pungkiri hal itu sebab aku pernah tinggal pula di sudut yang sama dalam perkara yang berbeda.
berdirilah, melangkahlah 5 inci dari sudutmu bergeming itu.. tumpahkan segala amarahmu dalam lautan kenegatifan atas dirinya, berpikir buruklah, menghentaklah sesuai kamu ingin, jika itu dapat mengembalikan kejayaanmu atas nama harga diri! lakukan apa apapun asal kamu dapat beranjak 5 inci dari keterpurukanmu. jangan berlari.. sebab pelarianmu akan menjadi sia-sia, sudut itu akan menarikmu kembali dengan grafitasinya yang luar biasa dashyat. beranjaklah 5 inci saja.. hanya 5 inci dan percayalah jarak itu akan menyelamatkanmu, grafitasinya tak akan mampu mencengkram keberadaanmu dalam 5 inci!
lupakan kesedihanmu, umpatkan cacimu, lupakan sakitmu, umpatkan sadisnya, lupakan pengorbananmu, umpatkan pesonanya. kamu jauh lebih hebat untuk terjatuh saat ini dalam kelumit ini, seharusnya perkara lain yang lebih besar dari ini yang boleh membuatmu terpuruk dan bukan perkara semudah ini. jiwamu tak serapuh itu untuk digugat olehnya!
kembali ke sini! 5 inci dari situ.. aku telah merentangkan tangan untuk mendekapmu sejak hari-hari yang lalu, sahabatku.
inspired by cici and her lovelife.
i thank you.

*pic taken by me
berdirilah, melangkahlah 5 inci dari sudutmu bergeming itu.. tumpahkan segala amarahmu dalam lautan kenegatifan atas dirinya, berpikir buruklah, menghentaklah sesuai kamu ingin, jika itu dapat mengembalikan kejayaanmu atas nama harga diri! lakukan apa apapun asal kamu dapat beranjak 5 inci dari keterpurukanmu. jangan berlari.. sebab pelarianmu akan menjadi sia-sia, sudut itu akan menarikmu kembali dengan grafitasinya yang luar biasa dashyat. beranjaklah 5 inci saja.. hanya 5 inci dan percayalah jarak itu akan menyelamatkanmu, grafitasinya tak akan mampu mencengkram keberadaanmu dalam 5 inci!
lupakan kesedihanmu, umpatkan cacimu, lupakan sakitmu, umpatkan sadisnya, lupakan pengorbananmu, umpatkan pesonanya. kamu jauh lebih hebat untuk terjatuh saat ini dalam kelumit ini, seharusnya perkara lain yang lebih besar dari ini yang boleh membuatmu terpuruk dan bukan perkara semudah ini. jiwamu tak serapuh itu untuk digugat olehnya!
kembali ke sini! 5 inci dari situ.. aku telah merentangkan tangan untuk mendekapmu sejak hari-hari yang lalu, sahabatku.
inspired by cici and her lovelife.
i thank you.
*pic taken by me
Thursday, December 2, 2010
penyangkalan
tolong sedikit bergeser dari tempatmu berada sekarang, sedikit saja jika kamu berkenan.. kedekatanmu terhadapku kadang menyesakkan aku. menyilaukan kedua bilah mata ini sebab mimpi-mimpi absurb dalam diriku terpetakan padamu. khayalan luar biasa yang selalu jadi wacana antara aku dengan mereka seketika sangat nyata ketika bersamamu. pertanyaan-pertanyaan tak berguna yang aku lontarkan, yang tak pernah digubris oleh mereka, tiba-tiba terjawab dan kamu mengejewantahkannya serupa susunan batu-batu besar membentuk cheops.
untuk kesekian kalinya aku kembali menyangkal dalam pekatnya hati, aku nyatakan bahwa aku tidak jatuh cinta terhadapmu. tidak sama sekali!
aku doktrinkan berulang sampai alam bawah sadar, meyakinkan jiwa akan rasa takut kehilangan harga diri yang lama aku bumbung. mengakui kesempurnaan akan kamu, tidak akan mengakibatkan aku menjadi lebih dari saat ini. namun jangan tanya mengapa mata ini selalu berpendar jika bersinggungan dengan mata milikmu. jangan terkejut jika sudut bibir ini selalu tersungging dalam percakapan kita. bahkan janganlah tersipu jika kamu mendapati rentetan huruf dariku ketika kamu belum terlihat disudutmu... entah mengapa keberadaanmu dalam segala wujudnya tiada menjemukanku. pertidaksamaan dalam persamaan benak kamu terhadap aku menyingsikan teori-teori alam pada umumnya.
kepemilikanmu akan semesta pengetahuan berjaya meluluhkan kesombongan diriku terhadap ilmu yang 'ku agungkan tiada tara. serapan-serapan empiris yang tak terbantahkan oleh manusia manapun dalam lingkaran kehidupanku disudutkan begitu saja olehmu. lagi-lagi kamu membuatku kembali berpikir dan berbincang.. kembali membenamkan keseluruhan benakku dalam kekaguman akan tingkap-tingkap pendapatmu yang tak-berkesudahan.
dengan kesadaran sempurnakah kamu lakukan ini atas aku? sesadar itukah, bahwa kesegala pemikiran, tindak dan perilakumu dapat mencengkram hebat hatiku tanpa ampun? hey kamu, sadarkah akan itu?!!
sungguh aku tidak jatuh cinta terhadapmu! tidak sama sekali!!
untuk kesekian kalinya aku kembali menyangkal dalam pekatnya hati, aku nyatakan bahwa aku tidak jatuh cinta terhadapmu. tidak sama sekali!
aku doktrinkan berulang sampai alam bawah sadar, meyakinkan jiwa akan rasa takut kehilangan harga diri yang lama aku bumbung. mengakui kesempurnaan akan kamu, tidak akan mengakibatkan aku menjadi lebih dari saat ini. namun jangan tanya mengapa mata ini selalu berpendar jika bersinggungan dengan mata milikmu. jangan terkejut jika sudut bibir ini selalu tersungging dalam percakapan kita. bahkan janganlah tersipu jika kamu mendapati rentetan huruf dariku ketika kamu belum terlihat disudutmu... entah mengapa keberadaanmu dalam segala wujudnya tiada menjemukanku. pertidaksamaan dalam persamaan benak kamu terhadap aku menyingsikan teori-teori alam pada umumnya.
kepemilikanmu akan semesta pengetahuan berjaya meluluhkan kesombongan diriku terhadap ilmu yang 'ku agungkan tiada tara. serapan-serapan empiris yang tak terbantahkan oleh manusia manapun dalam lingkaran kehidupanku disudutkan begitu saja olehmu. lagi-lagi kamu membuatku kembali berpikir dan berbincang.. kembali membenamkan keseluruhan benakku dalam kekaguman akan tingkap-tingkap pendapatmu yang tak-berkesudahan.
dengan kesadaran sempurnakah kamu lakukan ini atas aku? sesadar itukah, bahwa kesegala pemikiran, tindak dan perilakumu dapat mencengkram hebat hatiku tanpa ampun? hey kamu, sadarkah akan itu?!!
sungguh aku tidak jatuh cinta terhadapmu! tidak sama sekali!!
Wednesday, December 1, 2010
lukanya lukaku

terima kasih telah mengakhirinya dengan baik.. sungguh sakit yang menyenangkan, tiada lagi kata terucap dari mata yang biasa bicara. pergi saja ia dari sudut kesetiaannya yang biasa dikunjunginya. lelah mungkin setelah sekian lamanya setia, bosan mungkin menjadi manusia yang tak pernah dipercaya bahwa dirinya setia. keteguhan hatinya kali ini tidak dapat dinegosiasikan lagi. apa yang telah diputuskan akan tetap seperti itu. ia benamkan dirinya untuk tidak melihat kepedihan yang tertinggal di sudut hatinya. ia tepis segala rasa iba dan sayang yang biasanya ada. bahkan ia terus berjalan tanpa sedetikpun menoleh kepada rasa yang tertinggal. ia pergi menyelamatkan hidupnya yang terluka. luka yang sama seperti yang aku rasa..
ya, ia pergi meninggalkan aku.
*pic taken from google
Friday, October 15, 2010
platonis
aku memandanginya dari kejauhan, sepintas demi sepintas namun sampai jua pada tahap memperhatikan. mungkin ia tak secemerlang kunang-kunang yang bertebaran ditepian danau dengan cantiknya, tidak pula semenawan butiran rintik hujan yang 'ku tatapi di bawah temaram lampu jalan pada malam hari. tidak seindah warna-warni sambaran kilat pada cakrawala yang sebentar lagi menangis, tidak pula segemilang embun yang berdecak pada hilir daun. sungguh ia hanya sesederhana kepulan asap yang keluar dari hidung dan mulut konsumennya.
sayangnya, kepulan asap yang sederhana itu larut dalam rongga tenggorok yang melaju terus pada trakea menyusuri bronchi dan menjelajahi alveoli tanpa ampun, meleburkan dirinya pada hemoglobin --ah! sialnya hemoglobin ini lebih terpikat pada kandungan nikotin daripada kesenangan murni sang oksigen pada umumnya-- ya, dan ia merasuki setiap jengkal organ tubuhku dari dalam, menyerangku tanpa kendali dan merasuki segenap jiwaku. keberadaannya yang sederhana menjadi candu yang tak terpisahkan dari darahku... memikatku dengan sangat bila 'ku konsumsi dalam jumlah berlebihan dan menghisap keseluruhan ragaku bila 'ku hentikan pemakaian atasnya. mencanduiku dengan pikat yang terlampir padanya bahkan tanpa ia ketahui.
ia menghidupkan aku kembali pada dunia imajiner. memenuhi tiap sudut kosong pada ruang khayalku dengan hasil pindaian mata tiap kali bersua dengan binarnya yang mengagumkan. menyeruakan sudut kusam dengan tawa yang identik tanpa gugatan, bahkan semerbaknya sama dengan aromaku. ia melengkapi kesunyian dengan diam beralaskan buah-buah pikir yang tak berkesudahan yang termaktub dalam tutur ucapnya, jelas terlihat luas pengetahuannya yang menghardik idealismeku. bahkan lantunan nada tak berirama pula yang didendangkannya dapat menghipnotisku pada sebuah takjub.
aku biarkan ia disana, bertahta pada jiwanya, menapaki langkah hidupnya dan aku terhenti disini untuk meratapi keindahannya tiada tara. ia utopis.. ia platonis.. padahal ia nyata tepat disampingku setiap waktu. ironis...
sayangnya, kepulan asap yang sederhana itu larut dalam rongga tenggorok yang melaju terus pada trakea menyusuri bronchi dan menjelajahi alveoli tanpa ampun, meleburkan dirinya pada hemoglobin --ah! sialnya hemoglobin ini lebih terpikat pada kandungan nikotin daripada kesenangan murni sang oksigen pada umumnya-- ya, dan ia merasuki setiap jengkal organ tubuhku dari dalam, menyerangku tanpa kendali dan merasuki segenap jiwaku. keberadaannya yang sederhana menjadi candu yang tak terpisahkan dari darahku... memikatku dengan sangat bila 'ku konsumsi dalam jumlah berlebihan dan menghisap keseluruhan ragaku bila 'ku hentikan pemakaian atasnya. mencanduiku dengan pikat yang terlampir padanya bahkan tanpa ia ketahui.
ia menghidupkan aku kembali pada dunia imajiner. memenuhi tiap sudut kosong pada ruang khayalku dengan hasil pindaian mata tiap kali bersua dengan binarnya yang mengagumkan. menyeruakan sudut kusam dengan tawa yang identik tanpa gugatan, bahkan semerbaknya sama dengan aromaku. ia melengkapi kesunyian dengan diam beralaskan buah-buah pikir yang tak berkesudahan yang termaktub dalam tutur ucapnya, jelas terlihat luas pengetahuannya yang menghardik idealismeku. bahkan lantunan nada tak berirama pula yang didendangkannya dapat menghipnotisku pada sebuah takjub.
aku biarkan ia disana, bertahta pada jiwanya, menapaki langkah hidupnya dan aku terhenti disini untuk meratapi keindahannya tiada tara. ia utopis.. ia platonis.. padahal ia nyata tepat disampingku setiap waktu. ironis...
Thursday, October 14, 2010
tentang kamu
aku memilih terjangkit amnesia tentang kamu. pilihan yang bijak walau tak bajik untuk semesta, ya! apa peduliku tentang semesta?! aku hanya peduli akan aku masa ini, maka itu aku menjadi amnesia.
keseluruhan tentangmu tak ubahnya kubangan hitam tempat kerbau melumpur, atau serupa legamnya kantung mata yang lelah setelah mata ini dipaksakan terus terjaga. keberadaanmu pada waktu lalu adalah kesalahan, meski kesalahan itu selayaknya aku emban sebab tanpanya aku tidak akan pernah mengerti soal kebenaran. singkirkan sejenak tentang pemikiran positif atas kamu, kini aku merangkum kenegatifanmu atasku. sepantasnya seperti itu untuk kesehatanku!
sudah aku hapus keberadaanmu pada sudut mataku tiap kali bayanganmu jatuh padaku. bahkan aku pasangkan tirai pembuta mata ketika kamu ada tepat dihadapku. akan tidak sia-sia usahaku, sebab aromamu sudah tak mengesankan seperti hari yang lalu, pudar.. sudah pudar. kesimaku akan tingginya kamu tak sebanyak kemarin dan akan terus menipis ketika aku bersua dengan sang lusa.
kamu eros, bukan platonis! tak heran bila mudah terkikis.
keseluruhan tentangmu tak ubahnya kubangan hitam tempat kerbau melumpur, atau serupa legamnya kantung mata yang lelah setelah mata ini dipaksakan terus terjaga. keberadaanmu pada waktu lalu adalah kesalahan, meski kesalahan itu selayaknya aku emban sebab tanpanya aku tidak akan pernah mengerti soal kebenaran. singkirkan sejenak tentang pemikiran positif atas kamu, kini aku merangkum kenegatifanmu atasku. sepantasnya seperti itu untuk kesehatanku!
sudah aku hapus keberadaanmu pada sudut mataku tiap kali bayanganmu jatuh padaku. bahkan aku pasangkan tirai pembuta mata ketika kamu ada tepat dihadapku. akan tidak sia-sia usahaku, sebab aromamu sudah tak mengesankan seperti hari yang lalu, pudar.. sudah pudar. kesimaku akan tingginya kamu tak sebanyak kemarin dan akan terus menipis ketika aku bersua dengan sang lusa.
kamu eros, bukan platonis! tak heran bila mudah terkikis.
Subscribe to:
Posts (Atom)