Aku bersua dengan sisi lainku. Sisi yang tak pernah ingin aku ungkap walau berjuta asa menerpanya. Sisi yang sungguh enggan 'ku selami meski dari sudut tersempit yang tak akan mengakibatkan sakit. Aku nyata-nyata tak minat mengenalnya, bahkan meliriknya dalam sepersekian detik saja.
Mual aku dibuatnya, menyesakkan dan mencideraiku tanpa jeda. Sungguh, kini aku terantuk didalamnya. Sisi terkelam dalam bilangan kehidupanku di permukaan bumi ini. Jika dapat aku berlari dan bersembunyi, akan aku lakukan salah satunya tanpa menimbang.
Secarik kertas bertuliskan jajaran kalimat pembentuk paragraf itu dihadirkannya padaku.
"Gw ga bisa nerusinnya, tolong terusin, akal gw abis ketutup emosi, malu, salah, dosa, smuanya ne"
Lalu ia menghamburkan dirinya dengan secangkir cokelat panas dan rokok. Terdiam tepat di depanku dengan air muka yang carut marut.
"Lo pasti bisa ngelanjutinnya ne, setiap kisah itu lo tau kok, gw slalu cerita kan, selesaiin ne.. Tolong ya.."
"Trus jadinya akan dr perspektif gw? Subjektivitsanya akan nempel di sisa tulisan lo, apa ga papa?"
...
Namun dimana aku sembunyi jika dalam pengulangan hari aku mencarinya, kemana aku berlari bila dalam setiap tindak aku menemukan gambaranku padanya? Pengetahuannya meluruhkan keangkuhanku, menjeratnya tanpa ampun dan membenihkan butiran-butiran sikap perubahan.
Dimana sang Khalik saat ini? Mengapa Ia melakukan pembiaran atas apa yang aku lakukan? Kebencian yang merasuk sejak jutaan tahun lalu kini melumatkan aku. Sekadar menjadi seseorang yang aku benci sampai ke rusuk, padahal aku adalah korban dari perempuan semacam aku!! Kemana sang esa saat ini? Tertidur terlampau pulas kah? Terlampau lelahkah menjaga semesta, menjaga aku? Ia sungguh meletakan aku pada kondisi yang memuakkan bahkan oleh pandangan diriku sendiri.
Mohon angkat kup ini, cawan ini bukan untukku.. Cacian nurani ternyata lebih menyesahkanku jika dibandingkan dengan cibiran manusia lain. Tapi sungguh, bagian hati ini hadir tanpa rencana, bahkan tanpa sadarku. Ia menghardikku di satu pagi ketika ia terlelap tanpa notifikasi.
Jangan salahkan aku, jangan rajam aku hai nurani.. Aku sedang mengerahkan segala upaya untuk mengendalikan kontaminasi hati. Setidaknya, aku berusaha meski dalam diam.
"Gini cukup?" Sambil aku condongkan layar laptop ke arahnya.
"Iya.. Hmm, tulisin lagi ya kalo smuanya udah selesai."
Kopi, cokelat dan rokok kembali menemani kami dalam diam. Kamu lebih kuat dari itu, sahabat, percayalah.
jamak anak manusia akan berujar bahwa kumpulan kosa kata ini merupakan dramatisasi dari kisah yang sebenar-benarnya, sangkalan atas gugatan tersebut adalah sebuah pembenaran akan kebebasan berapresiasi di dunia maya
Sunday, January 8, 2012
Friday, December 30, 2011
oksigen?
lalu ia datang tanpa pertanda apapun, menghampiri tabung oksigen yang menjadi satu-satunya harapan untuk aku tetap hidup, menarik tangkupnya dengan kasar memotong selangnya dan menyisakan bebunyian mendesis tanpa henti. keterkejutan otak ini bebanding lurus dengan sang pulmo, tersedak-sedak meraih oksigen dari kumpulan monoksida dan dioksida, mengerejap tak terarah pada semesta udara.
aku bertahan di tempatku menenangkan sebagian organ, mendominasi kepala dengan himpitan dogma bahwa oksigen adalah unsur pelengkap yang tak dibutuhkan oleh keseluruhan raga serta jiwa. aku akan tetap bertahan pada hidup tanpa hadirnya sang oksigen, bila hari lalu aku mampu, lalu mengapa dalam satuan waktu kemarin aku koma tanpanya? lalu mengapa tabung dan selang-selangnya menjamahi ariku, menyesakkan warnanya pada paru dan mengirimkannya pada setiap alur aliran darah, mengikatkan dirinya yang hebat di setiap juntai neuron. kemudian melumpuhkan segenap aku dan keakuanku yang berjaya tanpa terkendali nyaris dalam tiga dekade.
detik ini, dalam jalan kematianku tanpa sang oksigen, masih dapat aku lihat ia menatapku. menggenggam erat selang-selang oksigen yang masih berdesis, beranjak mendekat kemudian menjauh lagi.. jelas sungguh bergetar keseluruhannya, sakit mungkin melihat dirinya sendiri berhasil melumpuhkan aku sekaligus merenggut senyumku yang mulai terbiasa menemaninya dalam setiap degup harinya. terdiam ia dalam duka.. koyak mungkin hatinya sekoyak hatiku atas tindaknya.
aku paksakan kembali tersenyum untuknya meski paru ini mulai porak poranda, adiksi oksigen itu tak tertandingi.. aku membiru dalam senyum memaku.
dalam detik berikutnya, aku hanya dapat menangkap bayangannya.. pudar, kian memudar.. menghambur menghilang.. indera pendengaran ini menjadi jauh lebih tajam.. ribut, rusuh.. lalu senyap.
entah berapa lama kegelapan menyelimutiku sampai aku rasakan kembali sang oksigen merajai aku, menjajahku kembali dan sayangnya.. ia menghidupiku. kini senyumnya yang menghardikku untuk tersadar.. "selamat datang kembali di planet bumi, sayang" bisiknya.
aku bertahan di tempatku menenangkan sebagian organ, mendominasi kepala dengan himpitan dogma bahwa oksigen adalah unsur pelengkap yang tak dibutuhkan oleh keseluruhan raga serta jiwa. aku akan tetap bertahan pada hidup tanpa hadirnya sang oksigen, bila hari lalu aku mampu, lalu mengapa dalam satuan waktu kemarin aku koma tanpanya? lalu mengapa tabung dan selang-selangnya menjamahi ariku, menyesakkan warnanya pada paru dan mengirimkannya pada setiap alur aliran darah, mengikatkan dirinya yang hebat di setiap juntai neuron. kemudian melumpuhkan segenap aku dan keakuanku yang berjaya tanpa terkendali nyaris dalam tiga dekade.
detik ini, dalam jalan kematianku tanpa sang oksigen, masih dapat aku lihat ia menatapku. menggenggam erat selang-selang oksigen yang masih berdesis, beranjak mendekat kemudian menjauh lagi.. jelas sungguh bergetar keseluruhannya, sakit mungkin melihat dirinya sendiri berhasil melumpuhkan aku sekaligus merenggut senyumku yang mulai terbiasa menemaninya dalam setiap degup harinya. terdiam ia dalam duka.. koyak mungkin hatinya sekoyak hatiku atas tindaknya.
aku paksakan kembali tersenyum untuknya meski paru ini mulai porak poranda, adiksi oksigen itu tak tertandingi.. aku membiru dalam senyum memaku.
dalam detik berikutnya, aku hanya dapat menangkap bayangannya.. pudar, kian memudar.. menghambur menghilang.. indera pendengaran ini menjadi jauh lebih tajam.. ribut, rusuh.. lalu senyap.
entah berapa lama kegelapan menyelimutiku sampai aku rasakan kembali sang oksigen merajai aku, menjajahku kembali dan sayangnya.. ia menghidupiku. kini senyumnya yang menghardikku untuk tersadar.. "selamat datang kembali di planet bumi, sayang" bisiknya.
Monday, December 12, 2011
perjuangan?

Siang ini terik luar biasa, sesi foto pre-wedding yang aku amini ini baru saja menyentuh titik diistirahatkan karena matari terlampau jumawa di atas sana. Sedang ceria rupanya akan hariku sehingga begitu bersemangat memancarkan sinarnya nan terik.
Teh botol dingin dan Black Menthol ini membawaku pada beberapa masa lalu ketika seorang temanku tanpa syarat menjabarkan kisahnya..
Kami dapat duduk berlama-lama pada hari lalu karena persamaan nasib. Mencintai cinta yang sama-sama telah memiliki cinta sebelumnya. Tapi ini betul cinta, dan tak terbagi oleh siapapun, meski disisi sana cintanya terbagi antara dia dengan kaum sejenisnya yang kebetulan lebih dahulu bersama laki-laki itu.
Kisah mereka tak dapat disimpulkan dengan mulus, terlalu banyak kelumit didalamnya. Pre-wed yang lengang dan kisah tersembunyi dari khalayak terus mereka susuri bersama. Mereka tak hanya menyantapi kerikil tajam dalam cinta, mereka meratapi batu besar hasil muntahan merapi yang mengamuk. Sang pria terikat dalam hubungan serius yang direstui kedua orang tuanya. Pula berencana menikah tahun berikutnya.
Mungkin ini hanya sebuah bentuk perjuangan akan cinta, menorehkan pengabadian dalam lembaran buku kehidupan. Temanku ini berjuang keras dalam mempertahankannya. Semata ia percaya sungguh cinta mereka sejati adanya. Menghalalkan jutaan cara untuk tetap bersamanya dalam suka dan sedih, dalam untung dan malang.
Nuraniku terusik di awal perencanaan temanku ini, mengejar moment katanya. Mempercepat pernikahan tanpa restu sebelum pernikahan yang direstui itu terselenggara. Mengabdi pada cinta yang dipercayakan oleh sang khalik untuknya, untuk mereka berdua.
Tepat siang ini mereka melegalisasikan kisah mereka, setelah perjuangan dan pengorbanan yang panjang dalam segenap kerahasian di muka umum. Ya, mereka melegalisasikannya.. menyeberangi selat malaka. Aku sebut perjuangannya membuahkan hasil, cinta mereka tetap berjaya meski bongkahan batu besar itu belum terlewati. Pula pernikahan berikutnya tetap harus dihadapi. Semoga ia, cinta dan rencananya sejalan dengan rencana ilahi. Semoga... Sementara aku berada disini, dalam peran sebagai fotografer untuk pre-wedding yang lain.
"Ne, yuk, mulai lagi, udah jam 3 nih" suara laki-laki calon mempelai itu memecahkan lamunan panjangku.
Sesi sore kembali dimulai, kembali aku mengintip dari lubang kamera, menghasilkan beberapa frame lainnya.. Tersenyum melihat kedua anak manusia ini mengikuti arahanku.
Sungguh, kesalahanku kali ini adalah berada disini, memeluk erat Alpha 200. Menyetujui sesi pengabadian cinta dua insan ini, karena sang calon mempelai laki-laki ini yang mengiba padaku kemarin malam.
Maaf, aku gagal memperjuangkan kita, darl.. Pintamu semalam telah aku penuhi kini. Tanpa gugatan, aku menjalankan peranku dalam pengabdian cintaku atasmu. Meski dalam relung ini jiwa menjerit meronta "seharusnya aku yang ada dalam tiap frame ini bersamamu, darl.."
semoga

Aku berdiri disini, menunggunya..
Ditemani alunan musik pengiring dengan kekhasan yang begitu membahana di telinga. Suasana manis menyeruak ketika aku menoleh ke belakang dan melihat semerbak warna-warni memenuhi rautnya yang tidak biasa.
Ia berjalan perlahan namun tegas, dalam jas hitam itu ia terlihat lebih dewasa dari hari-hari sebelumnya. Ia tersenyum menyapaku dari lorong ini, tegas dalam tekadnya yang tak dapat digugat oleh siapapun, termasuk oleh kedua manusia yang menghadirkannya ke planet bumi.
Kini ia tepat disampingku, menatapku lekat-lekat dalam gaun putih pilihan kita berdua. Tersenyum sekali lagi sebelum prosesi dilangsungkan. Sementara aku berbinar dan bergetar, sungguh tak pernah aku duga hari ini akan terjadi.
Hari yang aku tunggu dan aku mohon agar terjadi. Hari yang menegaskan kisahku bersamanya meski terselubung tanpa restu, meski harus melawan semua perintah bahkan walau harus melanggar kaumku sendiri.
Perempuan itu akan menangis melihat kenyataan ini. Maafkan aku, perempuan, namun aku juga mencintainya sama seperti kamu mencintainya. Aku membutuhkannya dan akan terus bersamanya meski maut memisahkan. Aku yang akan melumat kemarahanmu padanya, aku yang akan menjadi tameng untuknya pabila kamu menghardiknya. Sebab bila kamu menyakitinya, kamu menyakiti aku.
Vow telah diucapkan, sakral telah ditorehkan. Kita tidak lagi dua melainkan satu. Bantu aku mendapatkan persetujuan terakhir dari kedua orang tuamu, sayang. Semoga mereka mengerti akan cinta kita. Dan pembatalan pernikahanmu dengan kekasihmu nantinya tak akan pernah aku mohonkan. Semoga saja..
Sunday, December 11, 2011
luruh

Bungkus ke empat baru saja aku buka, botol ke tiga menemaninya. Ruang ini terlampau berasap seketika. Mereka berdesakan mencari ventilasi, membumbung ke langit-langit dan menjejalkan diri ke atas pintu yang sedari tadi aku tutup rapat.
Sejalan semuanya hari ini, sejalan dengan penat yang aku derita tanpa sebab. Kantung mata ini pula rupanya telah penuh, tak mampu lagi menampung air didalamnya. Pakaian ini pun masih utuh menempel pada tubuh, tepat seperti pagi tadi aku kenakan.
Tawa denganmu beberapa menit yang lalu ternyata hanya semerbak yang melintas tanpa menetap. Sebab dalam detik ini berita yang kamu sampaikan meluluhkan benteng tawaku. Meluruhkannya jadi debu, meninggalkan aku sendiri dalam tatapan nanar berbayang, tak fokus oleh sebab mata ini terpenuhi air yang mengamuk melepaskan diri dari rengkuhan kantungnya.
Lalu mengapa kamu harus hadir dan meluluh-lantakkan tingkap egoku? Kamu tak ubahnya semacam nikotin, kafein, alkohol dan MSG yang sungguh tidak aku perlukan namun aku butuhkan. Menyusup dalam aliran darah dan menjejalkan adiksi dan afeksi yang tidak biasa, menjadikannya sekelumit kebutuhan yang terus akan diminta oleh tubuh pabila hilang dalam jerat-jerat syaraf.
Kejahatanmu tak dapat ditoleransi, kamu menanamkan tumbuhan berakal tunggang pada hati yang keras. Menyelusupkan akar-akarmu sampai pada pusatnya. Seketika dalam hitungan detik kamu serabutkan tumbuhan itu dan meninggalkan liang tak tertutup sampai akhir hayat. Dengan persetujuan sang esa-kah kamu melakukannya?
Lalu mengapa jejak kaki kita harus bertemu, berjalan sejajar dan bersilangan? Jika pada akhirnya aku akan kembali melangkah sendirian?
Botol ke empat kembali menemaniku, melarutkan segala hal tentang kamu. Semoga waktu kembali menyembuhkan aku. Meretaskan batas sunyiku dalam kepulan asap yang semakin membiru.
*pict taken from http://www.tradebit.com/filedetail.php
Wednesday, November 16, 2011
Amarah
Dalam tingkap kesabaranku yang lekas menyentuh titik didih, kini kamu cobai sekali lagi. Dengar, aku bukan manusia para umumnya dan aku tahu bahwa bahwa terdapat unsur kesengajan dalam tindak tandukmu akan aku. Lakumu tak ayal dari sesah pada setiap nadiku, memaksaku merenggangkan aorta untuk memompa gabungan hemoglobin, eritrosit dan leukosit pada waktu yang sama. Memaksa mereka menemui sasaran dan bergumul di kepala, serta merta meningkatkan nada pada pita suara mengakibatkannya memberikan sensasi erangan yang tidak biasa.
Aku menghardikmu tadi, mengumpatkan kata yang wajar aku lontarkan namun kali ini dalam dentuman suara yang tidak umum. Sungguh kali ini kamu telah memperdayaku tanpa aba-aba. Kamu sungguh memuakkan!!! Berjaya di sana dengan keangkuhan tak terperikan, tersenyum di atas pedihku yang merintih akan kasih. Sementara aku meranggas tanpa batas, di sini aku memaki tanpa henti.
Khianatmu tak kan terhapuskan meski darah berhenti berotasi pada tubuh mortal ini. Tipuan dan muslihatmu tak akan terampuni walau bumi luruh jadi debu. Sungguh, bahkan segenap jagad raya ini tak akan mampu memaafkanmu, seberapapun kamu bersimpuh, memohon dan mengaduh. Kejahatanmu tak mungkin lekang oleh sang waktu. Dalam masa Berikutnya, khianatmu akan dipersamakan dengan sejarah dunia, tertoreh dalam kitab raja-raja.. Keduanya akan sama buruknya dengan masa kegelapan Roma Katolik pada abad pertengahan. Dan aku mensejajarkan kamu dengan kisah-kisah terburuk dalam fana.
Dengar wahai kamu sang arogan, serapahku akan menyertaimu sampai pads akhir zaman! Khianatmu atas kasih putih ini akan menghentikan langkahmu dalam pencarian akan sejatinya cinta. Teruslah mencari dan teruslah mengetuk setiap pintu hati. Sebab sejak mula-mula hatimulah yang tak diberkahi pintu oleh sang Khalik. Meranalah di kemudian sebab hal itu sungguh setimpal dengan kedukaan hatiku yang kamu ganti dengan pelepah arang.
Aku menghardikmu tadi, mengumpatkan kata yang wajar aku lontarkan namun kali ini dalam dentuman suara yang tidak umum. Sungguh kali ini kamu telah memperdayaku tanpa aba-aba. Kamu sungguh memuakkan!!! Berjaya di sana dengan keangkuhan tak terperikan, tersenyum di atas pedihku yang merintih akan kasih. Sementara aku meranggas tanpa batas, di sini aku memaki tanpa henti.
Khianatmu tak kan terhapuskan meski darah berhenti berotasi pada tubuh mortal ini. Tipuan dan muslihatmu tak akan terampuni walau bumi luruh jadi debu. Sungguh, bahkan segenap jagad raya ini tak akan mampu memaafkanmu, seberapapun kamu bersimpuh, memohon dan mengaduh. Kejahatanmu tak mungkin lekang oleh sang waktu. Dalam masa Berikutnya, khianatmu akan dipersamakan dengan sejarah dunia, tertoreh dalam kitab raja-raja.. Keduanya akan sama buruknya dengan masa kegelapan Roma Katolik pada abad pertengahan. Dan aku mensejajarkan kamu dengan kisah-kisah terburuk dalam fana.
Dengar wahai kamu sang arogan, serapahku akan menyertaimu sampai pads akhir zaman! Khianatmu atas kasih putih ini akan menghentikan langkahmu dalam pencarian akan sejatinya cinta. Teruslah mencari dan teruslah mengetuk setiap pintu hati. Sebab sejak mula-mula hatimulah yang tak diberkahi pintu oleh sang Khalik. Meranalah di kemudian sebab hal itu sungguh setimpal dengan kedukaan hatiku yang kamu ganti dengan pelepah arang.
Thursday, November 3, 2011
aku dan hujan

aku terpaku di sini, dalam rapatnya kesesakkan jakarta, ditemani genderang klakson yang meronta memekakan telinga. menerawang menembus jendela yang basah penanda penghujan telah menyapa bulan ini, menyempurnakan pikuk jakarta raya dengan kepadatan lalu lintasnya di jumat malam ini.
pada detik berikutnya aku memutuskan untuk menghentikan laju argo burung biru ini, menghamburkan diri dalam sisa gemericik hujan. melangkah memilih jejak yang tak tergenang, berkutat dalam hirup pikiran yang hilir mudik membuncah pada gurat dahi. aku putuskan untuk menghirup kotornya polusi jakarta ini, berharap ia akan mengotori alam pikirku yang terlampau keruh. dengan niat teguh aku biarkan diriku terguyur gerimis sekadar hanya untuk melunturkan isi kepalaku yang penuh akan dirimu...
aku yang melangkah gamang dalam alur kisah yang terjal, menyala dan merona pada hari kerja, lalu kamu matikan pada akhir minggu. aku yang kamu biarkan terbang tinggi meski dengan syarat yang tak terbantahkan yang kamu usulkan. aku yang menjajal hati dengan hati, meski dengan kesadaran penuh kamu sungguh tanpa hati.
gontai aku teruskan langkahku dalam jarak pandang yang buram. hujan membahana, melumatkan tiap jengkal keringnya tubuh ini. sekeras apapun sang hujan ini berusaha, tak satupun keping pikirku terlepaskan bersama sang hujan.. bagian-bagian ini masih tertata dengan baik memenuhi cerebelum dan cerebum. semua tentangmu masih meraja dalam alam khayal dan nyataku. pula masih aku nikmati keberadaan dalam ketiadaanmu sesuai hari dalam samsiah.
ya, setidaknya sang hujan kini berhasil menutupi luapan air mataku yang tak terbendung lagi sejak tadi.
*pict taken from http://www.flickr.com/photos/zi-sky/4295120976/
Subscribe to:
Posts (Atom)