aku tahu aku ada dimana. aku tahu aku ingin apa. aku nyaris tahu segala sesuatu tentang aku. maka, aku menjadi aku. namun, kadang ada masa dimana aku lelah dengan keakuanku. jenuh, jenuh saja.
seperti saat ini, rupanya. jenuh saja dengan rutinitas. padahal, segala hal yang dilakukan adalah sebatas rutinitas. jika pun ada hal baru dan dilakukan kembali, itu pula akan menjadi rutinitas baru. sesederhana itu, hanya sebatas pengulangan. mungkin, yang membedakan hanya manusianya, siapa lawan tandingku, atau jangan sebut lawan tanding-lah, rasanya, ada unsur kompetisi di kata itu. baiknya disebut rekan saja. rekan baru, dengan latar belakang menarik yang tentunya menambah wawasanku.
itu saja.
kala itu terjadi, aku akan menjadi terlalu fokus, terlalu rutin. sampai kembali pada rutinitas dan bersua dengan si jenuh. pengulangan.
sebut saja kala itu terjai saat ini. ketika pengenalan dan percapakan membukakan tingkap-tingkap sadar. seperti paru-paru, yang bersedia (atau mungkin wajib) membuka tingkapnya satu per satu sembari menyaring kumpulan udara, memurinkannnya menjadi O2 dan kemudian menghembuskan kembali keluar unsur lain yang, ya, bisa disebut tak termanfaatkan oleh tubuh.
namun, paru-paru bukan aku. analoginya bisa tepat pada beberapa hal tapi tak keseluruhan. ada bagian pengejaran yang selalu aku lakukan. bukan untuk memiliki, bukan. jangan terlalu percaya jika kamu merasa aku mengejar, berlari padamu. sengaja aku kesankan demikian untuk membuat rekan merasa berarti, diinginkan, dan bahkan sedikit "takut aku miliki".
tidak ada bagian posesifitas dalam pengejaranku. semudah karena aku tak ingin dimiliki. maka, berlaku sebaliknya. jadi, kamu, jangan terlalu termakan asumsi atau penghakiman sendiri di kepalamu atas pengejaranku. aku bahkan tak berminat sama sekali untuk tersandera dalam fase itu.
itu saja, car.
jamak anak manusia akan berujar bahwa kumpulan kosa kata ini merupakan dramatisasi dari kisah yang sebenar-benarnya, sangkalan atas gugatan tersebut adalah sebuah pembenaran akan kebebasan berapresiasi di dunia maya
Sunday, August 16, 2015
Tuesday, August 4, 2015
Maaf, sahabat.
Aku meninggalkanmu karena aku cemburu. Harusnya aku jabarkan ini sejak mula-mula. Aku cemburu karena suatu malam kita duduk bertiga. Namun yang bicara hanya dua. Dua itu selain aku. Aku sungguh cemburu sejak itu.
Lalu aku pergi dari kamu untuk menghindari amarah. Supaya aku tidak menghardik setelahnya. Supaya aku tidak mengumpat dan membiarkan kalian mengerti aku cemburu.
Aku berlari untuk sembunyi. Hanya sisa gerutu dalam senyap dan mungkin tangis dalam alunan sigur ros. Aku cemburu karena aku yang sengaja mengenalkan kalian. Aku cemburu akan akibatnya.
Seharusnya aku yang di situ. Bukan malah menatapi cengkrama kalian yang makin intim tanpa jeda. Menutupi seakan aku mengerti apa yang kalian diskusikan.
Aku pergi saat itu juga. Menghindari kebersamaan. Karena hanya itu pengetahuanku jika patah hati. Sendiri. Sendiri saja, melewatkan segala bentuk kemesraan kalian.
Aku tahu akibatnya, segala tak akan lagi sama. Aku tidak lagi menunggumu di tangga itu sambil mengunyah bakwan malang abang-abang yang dipisahkan pagar kawat. Aku tak lagi datang malam-malam dan menetap di 33. Aku tidak lagi mengucapkan "berangkat dulu yaa, ayoo kamu bangun siap-siap", sementara kamu masi separuh sadar dengan hidung mampat. Kita tidak lagi berlama-lama di toko mini untuk bicara apa saja tanpa syarat.
Aku tahu konsekuensinya, aku akan merindu sejadi-jadinya. Karena semua tidak lagi sama. Aku tahu aku kehilanganmu, bahkan ketika semua alasan ini sudah panjang lebat aku jelaskan. Kita tak lagi sama. Aku mengerti akibatnya, kecemburuan adalah kematian. Maafkan aku, jika masih pantas memohon, sahabat.
Lalu aku pergi dari kamu untuk menghindari amarah. Supaya aku tidak menghardik setelahnya. Supaya aku tidak mengumpat dan membiarkan kalian mengerti aku cemburu.
Aku berlari untuk sembunyi. Hanya sisa gerutu dalam senyap dan mungkin tangis dalam alunan sigur ros. Aku cemburu karena aku yang sengaja mengenalkan kalian. Aku cemburu akan akibatnya.
Seharusnya aku yang di situ. Bukan malah menatapi cengkrama kalian yang makin intim tanpa jeda. Menutupi seakan aku mengerti apa yang kalian diskusikan.
Aku pergi saat itu juga. Menghindari kebersamaan. Karena hanya itu pengetahuanku jika patah hati. Sendiri. Sendiri saja, melewatkan segala bentuk kemesraan kalian.
Aku tahu akibatnya, segala tak akan lagi sama. Aku tidak lagi menunggumu di tangga itu sambil mengunyah bakwan malang abang-abang yang dipisahkan pagar kawat. Aku tak lagi datang malam-malam dan menetap di 33. Aku tidak lagi mengucapkan "berangkat dulu yaa, ayoo kamu bangun siap-siap", sementara kamu masi separuh sadar dengan hidung mampat. Kita tidak lagi berlama-lama di toko mini untuk bicara apa saja tanpa syarat.
Aku tahu konsekuensinya, aku akan merindu sejadi-jadinya. Karena semua tidak lagi sama. Aku tahu aku kehilanganmu, bahkan ketika semua alasan ini sudah panjang lebat aku jelaskan. Kita tak lagi sama. Aku mengerti akibatnya, kecemburuan adalah kematian. Maafkan aku, jika masih pantas memohon, sahabat.
Benteng
Benteng ini serupa mercusuar. Tinggi menjulang tanpa pintu dan jendela. Di dalamnya punya jutaan anak tangga, entah untuk menuju kemana. Sengaja aku buat semacam itu agar bahkan semutpun undur diri untuk mencoba naik.
Benteng ini sempurna tanpa pengusik dari luar. Meski di dalam kerap gaduh, namun aku tahu pusat gaduh itu dari mana. Kegaduhan yang tetap terukur karena tanpa aksi reaksi dari manusia lain. Nyaman.
Sayangnya benteng ini lupa aku pasangi selaput anti bebauan. Sehingga kerap ada saja yang menyesap masuk. Meninggikan rasa penasaranku untuk sekadar menembuskan pandangan pada asal bebauan. Sampai saat ini, tetap tak terusik karena tiada yang istimewa. Manusia hanya lewat atau bahkan menyandarkan diri pada dinding luar. Lelah berjalan mungkin, lelah menapaki langkah selanjutnya. Namun kemudian manusia itu akan kembali melangkah. Kembali melangkah.
Aku di dalam sini menjaga yang perlu aku jaga. Mungkin bahkan lebih tepatnya menghindari nyata. Karena ini nyamanku, tak terusik, tak mengusik.
Aku hanya takut jika nanti dalam satuan waktu kemudian ada manusia lain yang berhenti melangkah pada benteng ini. Atau bagaimana jika ia berucap bahwa benteng ini adalah tujuannya sehingga hentilah langkahnya!
Baiknya aku pikirkan reaksiku lain waktu, karena tiada kausalitas tanpa reaksi, bukan?
Benteng ini sempurna tanpa pengusik dari luar. Meski di dalam kerap gaduh, namun aku tahu pusat gaduh itu dari mana. Kegaduhan yang tetap terukur karena tanpa aksi reaksi dari manusia lain. Nyaman.
Sayangnya benteng ini lupa aku pasangi selaput anti bebauan. Sehingga kerap ada saja yang menyesap masuk. Meninggikan rasa penasaranku untuk sekadar menembuskan pandangan pada asal bebauan. Sampai saat ini, tetap tak terusik karena tiada yang istimewa. Manusia hanya lewat atau bahkan menyandarkan diri pada dinding luar. Lelah berjalan mungkin, lelah menapaki langkah selanjutnya. Namun kemudian manusia itu akan kembali melangkah. Kembali melangkah.
Aku di dalam sini menjaga yang perlu aku jaga. Mungkin bahkan lebih tepatnya menghindari nyata. Karena ini nyamanku, tak terusik, tak mengusik.
Aku hanya takut jika nanti dalam satuan waktu kemudian ada manusia lain yang berhenti melangkah pada benteng ini. Atau bagaimana jika ia berucap bahwa benteng ini adalah tujuannya sehingga hentilah langkahnya!
Baiknya aku pikirkan reaksiku lain waktu, karena tiada kausalitas tanpa reaksi, bukan?
Wednesday, July 29, 2015
Kalian!
Kemana kalian? Dimana kalian? Aku sudah di sini, tanpa permintaan, tanpa gugatan! Mana kalian?
Dekade ini sudah berlalu lagi. Namun, aku tak menemukan kalian. Tidak pernah. Tidak dimana aku membutuhkan kalian. Tidak ketika aku berpikir kalian ada. Descrates bilang, karena kita berpikir maka kita ada! Kalian mana? Sudah habis aku berpikir! Sudah lelah aku berharap. Mana kalian?
Bukan saat ini, bukan kemarin. Namun, selalu saja, setiap waktu. Salahku hanya berharap, berharap kalian ada. Ada di kepalaku, jelas lugas! Namun tak secuilpun ada di hadapku!
Mengapa kalian selalu saja begitu? Kalian, yang seharusnya ada untukku. Kalian yang seharusnya... Yang seharusnya.. Seharusnya!
Tapi lihat ini!! Lihaatt!!! Selalu mereka, selalu!
Lihat! Lihatlah! Air ini jauh lebih kental dari darah kalian yang berdegup di jantungku!
Sendiri
Kali ini nyata harus sendiri. Tanpa cakap dengan lain manusia namun ramai dengan si sendiri. Mengenalnya lebih dekat, menapaki kengeriannya, meniti ketakutannya. Sendiri.
Si sendiri, mohon temani aku kali ini. Rasa ini terlalu rumit untuk dibahasakan. Aku hanya terlalu takut menghadapimu, sendiri.
Wednesday, March 4, 2015
Manusia
Perbedaan itu, saat yang satu memaafkan sebelum matahari terbenam, tapi satunya memaafkan dalam waktu 3 hari.
Perbedaan itu, ketika yang satu percaya surga ada di langit ke-7, tapi satunya yakin surga ada di langit ke-3.
Ah, manusia.
Wednesday, August 20, 2014
Ubah? Rubah?
Aku?
Siapa aku?
Apa aku?
Bumi ini terlalu pekat untuk menjelaskan siapa aku.
Rasanya hanya satuan hari berlalu. Beberapa detik saja.
Tapi lihat apa yang telah terlewatkan!
Pikuk keriaan yang awan saat itu, kini asing bagiku.
Kisah yang aku hafal, kini membuatku selayak alien.
Raut yang biasa ada, kini hilang. Lenyap.
Aku atau kalian yang berubah?
Aku yang menjarak, atau kamu?
Lalu apa aku? Siapa aku?
Lalu apa yang aku kenal saat ini?
Apa yang aku hafal dan awam?
Apa mungkin meraih mereka kembali ketika aku bahkan tak kenal siapa aku.
Siapa aku?
Apa aku?
Bumi ini terlalu pekat untuk menjelaskan siapa aku.
Rasanya hanya satuan hari berlalu. Beberapa detik saja.
Tapi lihat apa yang telah terlewatkan!
Pikuk keriaan yang awan saat itu, kini asing bagiku.
Kisah yang aku hafal, kini membuatku selayak alien.
Raut yang biasa ada, kini hilang. Lenyap.
Aku atau kalian yang berubah?
Aku yang menjarak, atau kamu?
Lalu apa aku? Siapa aku?
Lalu apa yang aku kenal saat ini?
Apa yang aku hafal dan awam?
Apa mungkin meraih mereka kembali ketika aku bahkan tak kenal siapa aku.
Subscribe to:
Posts (Atom)