Perempuan, apakah yang kamu katakan pada ayahku ketika kamu bertemu dengannya? Adakah kiranya rajukan atau senyum manis pengikat tersungging di manisnya parasmu kala itu. Kiranya kisahkan padaku seberapa kuat sentrifugal yang terjadi antara kamu dan ayahku, dimanakah ia berpusat, ayahku atau padamu? Sebab sepanjang pengetahuan nalarku sampai dengan masa ini, selalu pada dirimulah kesalahan itu aku hujatkan.
Adakah niat memiliki ayahku saat kamu perdana mengenalnya, adakah keinginan kuat dalammu yang menyesatkan kamu untuk membuatnya berpaling daripadaku? Seberapa dahsyatkah upayamu melarutkan kesetiaannya pada sakralnya pernikahan terjadi sesaat setelah kamu mengenalnya? Terlintaskah pada sisi perikemanusiaanmu paling dalam akan kehadiran aku di antara kamu dan ayahku? Bukankah kamu juga berayah atau setidaknya pernah berayah? Pula kamu berperan serupa aku dalam pohon keluargamu? Mungkinkah kamu pernah tersakiti terlampau parah sedemikian rupa sehingga kamu sampai hati padaku?
Atau, sungguh kamu sang empunya pasangan rusuk ketujuh yang terus dicari oleh ayahku dimana satu rusuknya bersemayam? Kamu yang tanpa tipu muslihat mungkin diwajibkan hadir di hadapannya agar ayahku sungguh menyadari kehadiran belahan jiwanya, seperti itukah peranmu, perempuan? Dapatkah kamu perlihatkan irisan garis nasibmu dengan garisku sehingga aku dapat mengerti peranmu atasku? Sungguhkah cinta sejati itu ada padamu dan ayahku? Lalu, mengapa perempuan yang aku sebut ibu juga memainkan lakon dengan ayahku? Dan, sebagai tambahan pengetahuanmu, perempuan, bukan ibuku yang tersakiti, melainkan aku!
Mungkinkah ayahku yang melarutkanmu karena tatapan teduhnya, karena bujuk rayunya, karena keberadaannya bersamamu dalam satuan waktu yang sama, dalam frekuensi yang sama? Atau, ayahku menjebakmu dalam pernyataan-pernyataan ambigu yang digubahnya sehingga kamu tak kuasa mengelaknya? Hal apa yang memberanikan jiwa raganya untuk pergi dariku dan melanjutkan sisa hidupnya bersamamu? Dan, kesemuanya terjadi pada saat ia hampir setengah abad menapaki jejaknya di bumi ini? Ironis...
Hai, perempuan, sungguh aku tak ingin menuduhmu berbuat kejahatan. Sungguh aku tak berniat mempersalahkan kehadiranmu dalam garis hidupku. Sungguh aku menggenggam erat jutaan pertanyaan tak terjawab pada cerebellum dan cerebrum ini. Serta, sungguh ucap terima kasihku ini padamu lebih banyak dari jumlah pasir di laut dan bintang di angkasa, sebab tanpa kamu, aku tidak akan menyadari begitu hebatnya cinta ibuku terhadap aku sehingga ia bertahan demi aku sampai jantungnya berhenti berpendar.
jamak anak manusia akan berujar bahwa kumpulan kosa kata ini merupakan dramatisasi dari kisah yang sebenar-benarnya, sangkalan atas gugatan tersebut adalah sebuah pembenaran akan kebebasan berapresiasi di dunia maya
Saturday, April 24, 2010
Tuesday, April 20, 2010
kamu dan kisahmu
tak pernah cukup pengetahuan hidupku akan kamu, sungguh tak akan pernah cukup. sebut saja dalam satu putaran syamsiah perjumpaanku denganmu belum mampu dikatakan setengah putaran. namun dramatisme kisah kasihmu telah mengabiskan energiku untuk terus mendengarkan. seakan sebuah alur pada telapak tangan, semudah itu hilang dan muncul kembali seiring dengan pemanfaatan dan perawatannya.
kamu dengan diandra saat itu, banyak tawa banyak tangis.. meskipun saat kamu dan diandra terlintas dalam benak, tanpa tuduhan untukmu, setidaknya ada rasa lain dengan bianda. jangan tanya padaku dari mana asumsiku ini, sebut sahaja asumsi liar atau jika mampu mengawamkannya, bahkan manusia bodoh di sekitar kita tanpa keraguan berarti dapat melihat tanpa selubung bahwa ada tatapan berbeda antara kamu dengan bianda. hiperbolis tawamu padanya, kehadiran ia setiap detik tepat di hadapmu, caramu bersapa dalam kesempatan sepersekian detik dan romantisme sentuhan kecilnya padamu yang kamu tanggapi dengan cara sedikit lebih dari wajar.
sampai pada suatu pagi, pagi yang sama dengan pagi sebelumnya.. pagi yang wajar seperti pagi lainnya untukku.. tapi sepertinya akan jadi pagi yang luar biasa setelah melihatmu dengan awan mendung berkecamuk dalam raut. lampiasan kisah menyerbu tiada henti, memaksa genderang telingaku tak berhenti bertalu tanpa kesempatan untuk menghela napasnya. kisahmu kali ini kembali pada diandra, ia menyelesaikan tugasnya untuk bersamamu.. sebentuk perang padri mungkin telah terjadi di bilangan paling barat pulau jawa ini, entah sehebat apa pertempuran itu, yang sepanjang pengetahuanku hal itu antara kamu, diandra dan bianda.. perebutan kekuasaan atas hati mungkin? atau hanya setampuk gengsi dan nafsu duniawi?
atas peperangan itu dapat aku jewantahkan hasilnya, kamu dan bianda semacam dua insan asing tak saling kenal, dan bianda hanya membungkam dalam tiap kesempatan bertemu tatap.. pelik rupanya. dan kamu, hanya meninggalkan ia tepekur di sudutnya, dalam yurisdiksinya.. tetap melenggang lekat dengan diandra. smoga kali ini tidak ada lagi dramatisasi yang berperan..
belum sempat aku menelan liur ini, kembali kamu berurai kisah.. pemaksaan kehendak kali ini. serupa siti nurbaya yang dibuat jadi menikah bersanding dengan sang dato maringgih.. kisahmu tak kalah menantang dengan pemaksaan menjalin hubungan dengan andara, dan mewajibkan pengakhiran jalinan asmara dengan diandra.. ciptaan kisah apa lagi ini darimu? dan kembali aku hanya dapat mendengarkan dengan seksama.. tanpa keluh tanpa saran.
andara, manusia sempurna di matamu kali ini.. tiada cacat cela, sempurna dengan dukungan orang tua.. lahir dari derajat yang lebih tinggi, lengkap dengan arogansinya. tetap juga kamu nyatakan ia sempurna dalam pengelihatanmu.. habis sudah diandra kau lewatkan dengan jeriatan diamnya, kini kau berkisah dengan andara.. tiap detik, tiap menit, tiap satuan waktu hanya andara mewarnai tawa dan sipumu. duniaku bertanya-tanya, akan berapa lama kali ini kamu dengan andara? sepenggal kisah tanpa arti akan berulang? atau akan semudah seperti kamu menghempaskan diandra?
janji-janji lembaga perkawinan kamu bumbung setinggi angkasa dari bumi, dalam hitungan satu per empat tahun kamu nyatakan akan mengakhiri kesendirian dengan andara.. masih terlalu belia pikirku, sehingga mudah berkata tanpa pikir tepekur. dan kemudian, kesah resah datang tanpa perintah, keluh dan murung kembali menghantuimu oleh sebab aroganisme andara.. apalagi ini, hentakku dalam diam. sedang kembali merapat pada pelabuhan diandra rupanya? atau ada lain manusia yang menyeret hatimu dari andara?
kisahmu pun terus bergulir kembali pada diandra, diselip tiap detik menghenyakan jiwamu pada bianda.. segalanya kembali pada rotasinya dalam waktu yang sangat singkat. sampai kemarin kamu benamkan diri dalam pelukku, meronta.. menangis.. menyatakan tak ingin jatuh cinta pada manusia manapun. dikhianati oleh diandra ucapmu, lelah dengan agresi bianda dan marah pada dinginnya andara.. sinetronisme apa lagi ini? karena tak seberapa waktu, alat komunikasi nirkabel yang tergeletak di mejamu berbunyi.. seiring dengan wangi semerbak menyeruak dalam ruangan.. ooohh,, windri hadir dengan senyuman khas mempesonamu yang sekejap kemudian menghapus air yang menetes tanpa henti dari matamu tadi..
dengan windri.. akan dibawa kemana kisahmu kali ini? dan drama apa lagi yang akan kamu hadirkan mengenai pengakhirannya? dapatkah aku menjadi tokoh antagonis mulai saat ini? karena aku sungguh lelah memerankan protagonis baik hati dan peyaran yang bijaksana.. dan sungguh aku lelah,, sangat bahkan.. ingin menemukan apa kamu sebenar-benarnya? karena padakulah rusukmu berada..
kamu dengan diandra saat itu, banyak tawa banyak tangis.. meskipun saat kamu dan diandra terlintas dalam benak, tanpa tuduhan untukmu, setidaknya ada rasa lain dengan bianda. jangan tanya padaku dari mana asumsiku ini, sebut sahaja asumsi liar atau jika mampu mengawamkannya, bahkan manusia bodoh di sekitar kita tanpa keraguan berarti dapat melihat tanpa selubung bahwa ada tatapan berbeda antara kamu dengan bianda. hiperbolis tawamu padanya, kehadiran ia setiap detik tepat di hadapmu, caramu bersapa dalam kesempatan sepersekian detik dan romantisme sentuhan kecilnya padamu yang kamu tanggapi dengan cara sedikit lebih dari wajar.
sampai pada suatu pagi, pagi yang sama dengan pagi sebelumnya.. pagi yang wajar seperti pagi lainnya untukku.. tapi sepertinya akan jadi pagi yang luar biasa setelah melihatmu dengan awan mendung berkecamuk dalam raut. lampiasan kisah menyerbu tiada henti, memaksa genderang telingaku tak berhenti bertalu tanpa kesempatan untuk menghela napasnya. kisahmu kali ini kembali pada diandra, ia menyelesaikan tugasnya untuk bersamamu.. sebentuk perang padri mungkin telah terjadi di bilangan paling barat pulau jawa ini, entah sehebat apa pertempuran itu, yang sepanjang pengetahuanku hal itu antara kamu, diandra dan bianda.. perebutan kekuasaan atas hati mungkin? atau hanya setampuk gengsi dan nafsu duniawi?
atas peperangan itu dapat aku jewantahkan hasilnya, kamu dan bianda semacam dua insan asing tak saling kenal, dan bianda hanya membungkam dalam tiap kesempatan bertemu tatap.. pelik rupanya. dan kamu, hanya meninggalkan ia tepekur di sudutnya, dalam yurisdiksinya.. tetap melenggang lekat dengan diandra. smoga kali ini tidak ada lagi dramatisasi yang berperan..
belum sempat aku menelan liur ini, kembali kamu berurai kisah.. pemaksaan kehendak kali ini. serupa siti nurbaya yang dibuat jadi menikah bersanding dengan sang dato maringgih.. kisahmu tak kalah menantang dengan pemaksaan menjalin hubungan dengan andara, dan mewajibkan pengakhiran jalinan asmara dengan diandra.. ciptaan kisah apa lagi ini darimu? dan kembali aku hanya dapat mendengarkan dengan seksama.. tanpa keluh tanpa saran.
andara, manusia sempurna di matamu kali ini.. tiada cacat cela, sempurna dengan dukungan orang tua.. lahir dari derajat yang lebih tinggi, lengkap dengan arogansinya. tetap juga kamu nyatakan ia sempurna dalam pengelihatanmu.. habis sudah diandra kau lewatkan dengan jeriatan diamnya, kini kau berkisah dengan andara.. tiap detik, tiap menit, tiap satuan waktu hanya andara mewarnai tawa dan sipumu. duniaku bertanya-tanya, akan berapa lama kali ini kamu dengan andara? sepenggal kisah tanpa arti akan berulang? atau akan semudah seperti kamu menghempaskan diandra?
janji-janji lembaga perkawinan kamu bumbung setinggi angkasa dari bumi, dalam hitungan satu per empat tahun kamu nyatakan akan mengakhiri kesendirian dengan andara.. masih terlalu belia pikirku, sehingga mudah berkata tanpa pikir tepekur. dan kemudian, kesah resah datang tanpa perintah, keluh dan murung kembali menghantuimu oleh sebab aroganisme andara.. apalagi ini, hentakku dalam diam. sedang kembali merapat pada pelabuhan diandra rupanya? atau ada lain manusia yang menyeret hatimu dari andara?
kisahmu pun terus bergulir kembali pada diandra, diselip tiap detik menghenyakan jiwamu pada bianda.. segalanya kembali pada rotasinya dalam waktu yang sangat singkat. sampai kemarin kamu benamkan diri dalam pelukku, meronta.. menangis.. menyatakan tak ingin jatuh cinta pada manusia manapun. dikhianati oleh diandra ucapmu, lelah dengan agresi bianda dan marah pada dinginnya andara.. sinetronisme apa lagi ini? karena tak seberapa waktu, alat komunikasi nirkabel yang tergeletak di mejamu berbunyi.. seiring dengan wangi semerbak menyeruak dalam ruangan.. ooohh,, windri hadir dengan senyuman khas mempesonamu yang sekejap kemudian menghapus air yang menetes tanpa henti dari matamu tadi..
dengan windri.. akan dibawa kemana kisahmu kali ini? dan drama apa lagi yang akan kamu hadirkan mengenai pengakhirannya? dapatkah aku menjadi tokoh antagonis mulai saat ini? karena aku sungguh lelah memerankan protagonis baik hati dan peyaran yang bijaksana.. dan sungguh aku lelah,, sangat bahkan.. ingin menemukan apa kamu sebenar-benarnya? karena padakulah rusukmu berada..
Friday, April 16, 2010
dalam benak
dalam suatu rasa yang tak berasa, dalam gegap gempitanya hubungan tanpa nama karena ia tak sanggup memberikan nama atas hubungan yang dijalaninya. Oleh sebab hubungan tak bernama ini, ia harus membungkam dari dunia nyata, berharap tetap berada dalam fananya dunia yang dinikmatinya saat ini. sangkalan demi sangkalan dilakukan untuk menyelamatkan rupa, menyelamatkan segenap jiwa dan diri dari kefasikan. kefasikan pada umumnya yang dikenal para anak manusia..
sempat diberinya perlawanan dalam hitungan tiga kali, namun akal sehatnya seakan mati.. patah sang tunas dan merajam ke dasar bumi tanpa bisa dicari. kembali ia berkutat dalam lesakan kisah tak bernama, dijalani, berharap sang akal masih beriringan dengan cinta. kembali ia bergeming dalam gamang.. hanya mengerti tawa yang setiap detik diraihnya, hanya memahami senyum yang mengukir manis rautnya setiap kali sudut pengelihatannya menangkap sang subjek.
jika aku tanya apakah ia sedang sungguh jatuh hati pada sang subjek, kembali ia tertegun tanpa kata.. ragu, kembali ragu apa rasa kali ini benar cinta? apa rasa kali ini benar mewakili sang hati? namun segala rasa ini sunnguh berbanding terbalik dengan kecintaan awam. jika ia membebaskan, rasa ini lebih sering mengekang.. jika ia melepaskan, kali ini lebih jamak menjadi adiktif.. jika ia seharusnya rendah hati dan memaafkan, kali ini malah banyak rendah diri ditemani tengkar dalam tawa.. mungkin memang ini bukan cinta sebenarnya, tapi ini cinta baginya.
sang subjek hanya dapat bersamanya dalam benak, dalam periode masa ini.. tanpa diumumkan atau diketahui manusia lain.. mereka jelas akan mencaci dan ia tak kuasa menahan caci yang akan menerpanya kali ini. sedikitnya mungkin mereka akan berdecak mengeluh, menggelangkan kepala atau menutup muka daripadanya.. menyalahkan, menyudutkannya.. alibi terbaiknya atas penilaian keseluruhan itu hanyalah hati.. pembenarannya untuk menyalahkan sang hati, menyalahkan waktu dan berharap semoga dapat memetik hikmat atas fase hidupnya kali ini.. hikmat? adakah hikmat kali ini??
hikmat atas suatu legam hitam yang menyeruak membabi buta di tiap malamnya.. hikmat yang menghitamkan langkahnya pada usia yang tidak dapat disebut belia, dan jejak langkahnya akan semakin kelam karena cintanya kali ini.. dapatkah ia peroleh hikmat? atau sang fasik akan terus menggelayut hebat pada jiwanya? ia tahu pada masanya ia harus memilih, memilih untuk beroleh hikmat atau menikmati kefasikan yang diukirnya dalam jiwa..
sungguh ia adalah manusia berlogika yang jauh lebih banyak daripada hati, lebih banyak memiliki akal sehat dan sedikit emosi. ia sungguh jauh lebih pintar dan cerdas dari pada umumnya, tega.. sangat tega akan segala hal yang terlalu emosional, dramatisasi atau hiperbolis. ia bahkan penyaran yang baik, baik dalam kesungguhan.. walau dalam masalah sendiri kali ini, serasa ada jiwa lain yang menjebaknya sehingga ia tak serupa biasa, sedikit berbeda namun tetap sangat keras yang hanya akan mengalihkan pilihan setelah terbentur hebat dan terjatuh.. baiknya aku biarkan ia serupa itu, bagian dari pendewasaannya mungkin..
dituturkannya bahwa ia hanya inginkan ini, hanya ingin senyum dan tawa.. bahkan ingin tengkar dan marah dengan sang subjek.. hanya ingin melewati sang malam dalam diam, menikmati terpaan sang angin bersama secangkir kopi, secangkir teh dan banyak batang rokok.. berbincang, bergunjing dan kembali tersipu dalam tenang.. menatap sang fajar bersama yang menyelinap menghangatkan dinginnya subuh setiap hari. ia hanya ingin ada dan keberadaan, tanpa gugatan yang lebih banyak dari itu..
dan apabila aku tanyakan padanya akan seperti apa akhir dari buku kisahnya kali ini, dengan senyum terselip getir ia akan menjawab.. "dan hanya buku ini yang tak pernah aku akhiri"
sempat diberinya perlawanan dalam hitungan tiga kali, namun akal sehatnya seakan mati.. patah sang tunas dan merajam ke dasar bumi tanpa bisa dicari. kembali ia berkutat dalam lesakan kisah tak bernama, dijalani, berharap sang akal masih beriringan dengan cinta. kembali ia bergeming dalam gamang.. hanya mengerti tawa yang setiap detik diraihnya, hanya memahami senyum yang mengukir manis rautnya setiap kali sudut pengelihatannya menangkap sang subjek.
jika aku tanya apakah ia sedang sungguh jatuh hati pada sang subjek, kembali ia tertegun tanpa kata.. ragu, kembali ragu apa rasa kali ini benar cinta? apa rasa kali ini benar mewakili sang hati? namun segala rasa ini sunnguh berbanding terbalik dengan kecintaan awam. jika ia membebaskan, rasa ini lebih sering mengekang.. jika ia melepaskan, kali ini lebih jamak menjadi adiktif.. jika ia seharusnya rendah hati dan memaafkan, kali ini malah banyak rendah diri ditemani tengkar dalam tawa.. mungkin memang ini bukan cinta sebenarnya, tapi ini cinta baginya.
sang subjek hanya dapat bersamanya dalam benak, dalam periode masa ini.. tanpa diumumkan atau diketahui manusia lain.. mereka jelas akan mencaci dan ia tak kuasa menahan caci yang akan menerpanya kali ini. sedikitnya mungkin mereka akan berdecak mengeluh, menggelangkan kepala atau menutup muka daripadanya.. menyalahkan, menyudutkannya.. alibi terbaiknya atas penilaian keseluruhan itu hanyalah hati.. pembenarannya untuk menyalahkan sang hati, menyalahkan waktu dan berharap semoga dapat memetik hikmat atas fase hidupnya kali ini.. hikmat? adakah hikmat kali ini??
hikmat atas suatu legam hitam yang menyeruak membabi buta di tiap malamnya.. hikmat yang menghitamkan langkahnya pada usia yang tidak dapat disebut belia, dan jejak langkahnya akan semakin kelam karena cintanya kali ini.. dapatkah ia peroleh hikmat? atau sang fasik akan terus menggelayut hebat pada jiwanya? ia tahu pada masanya ia harus memilih, memilih untuk beroleh hikmat atau menikmati kefasikan yang diukirnya dalam jiwa..
sungguh ia adalah manusia berlogika yang jauh lebih banyak daripada hati, lebih banyak memiliki akal sehat dan sedikit emosi. ia sungguh jauh lebih pintar dan cerdas dari pada umumnya, tega.. sangat tega akan segala hal yang terlalu emosional, dramatisasi atau hiperbolis. ia bahkan penyaran yang baik, baik dalam kesungguhan.. walau dalam masalah sendiri kali ini, serasa ada jiwa lain yang menjebaknya sehingga ia tak serupa biasa, sedikit berbeda namun tetap sangat keras yang hanya akan mengalihkan pilihan setelah terbentur hebat dan terjatuh.. baiknya aku biarkan ia serupa itu, bagian dari pendewasaannya mungkin..
dituturkannya bahwa ia hanya inginkan ini, hanya ingin senyum dan tawa.. bahkan ingin tengkar dan marah dengan sang subjek.. hanya ingin melewati sang malam dalam diam, menikmati terpaan sang angin bersama secangkir kopi, secangkir teh dan banyak batang rokok.. berbincang, bergunjing dan kembali tersipu dalam tenang.. menatap sang fajar bersama yang menyelinap menghangatkan dinginnya subuh setiap hari. ia hanya ingin ada dan keberadaan, tanpa gugatan yang lebih banyak dari itu..
dan apabila aku tanyakan padanya akan seperti apa akhir dari buku kisahnya kali ini, dengan senyum terselip getir ia akan menjawab.. "dan hanya buku ini yang tak pernah aku akhiri"
Wednesday, March 10, 2010
membeku
Silang pikir dalam percakapanku denganmu lalu, menyebabkan aku terpaku. Seolah ribuan jalan 'ku tempuh untuk membuatmu memahami akan inginku, akan asaku. Namun keseluruhannya tak hingap pula di benakmu. Aku kais sisa-sisa arah, kembali untuk menyisipkan butiran benakku di dirimu. Kembali dapat aku duga akan upayaku yang akan sia-sia, dan kau tetap di seberang sana membungkam.
Serbuan maaf kali ini 'ku sandingkan dengan penjelasanku yang 'ku anggap nyaris sempurna, semata aku lakukan untuk menghentikan pertengkaran nan dingin ini. Sungguh aku tak inginkan tengkar dan kelumit denganmu pada pekatnya langit malam ini. Namun tanpa jawab, kau tetap menatap sejurus pada sang fatamorgana.
Jalan mana lagi yang harus 'ku tempuh untuk sudahi kedinginan ini? Aku hanya ingin melepaskan keingintahuanku akan ketegaran hatimu tadi, sungguh tanpa nuansa yang lain. Tak dinyana bahkan kau bergeming, diam di sana dan membeku, menularkan kebekuanmu padaku. Beku yang membungkamkan sebongkah rinduku, yang sampai detik ini terlewatkan, pula tak terujar olehku. Rindu yang membawa kita pada pertengkaran dalam diam, menyisakan 'ku pada rasa yang meradang.
Aku meranggas di sisi ini, menyelamatkan diri dari pikir dan asumsi fana. Biarlah aku bertahan dalam kalut, tanpa harus 'ku telusuri sang muasal, seraya tetap 'ku tatapi sang fatamorgana yang sama, yang mengalihkan keberadaanku darimu.
Serbuan maaf kali ini 'ku sandingkan dengan penjelasanku yang 'ku anggap nyaris sempurna, semata aku lakukan untuk menghentikan pertengkaran nan dingin ini. Sungguh aku tak inginkan tengkar dan kelumit denganmu pada pekatnya langit malam ini. Namun tanpa jawab, kau tetap menatap sejurus pada sang fatamorgana.
Jalan mana lagi yang harus 'ku tempuh untuk sudahi kedinginan ini? Aku hanya ingin melepaskan keingintahuanku akan ketegaran hatimu tadi, sungguh tanpa nuansa yang lain. Tak dinyana bahkan kau bergeming, diam di sana dan membeku, menularkan kebekuanmu padaku. Beku yang membungkamkan sebongkah rinduku, yang sampai detik ini terlewatkan, pula tak terujar olehku. Rindu yang membawa kita pada pertengkaran dalam diam, menyisakan 'ku pada rasa yang meradang.
Aku meranggas di sisi ini, menyelamatkan diri dari pikir dan asumsi fana. Biarlah aku bertahan dalam kalut, tanpa harus 'ku telusuri sang muasal, seraya tetap 'ku tatapi sang fatamorgana yang sama, yang mengalihkan keberadaanku darimu.
Thursday, March 4, 2010
memanusiawikan sang hati
semerbak rasa menghujam asa, membumbungkan aku sejauh cirrus dari dasar bumi. seketika kepekaan indera kembali pada fungsinya, tanpa cukup waktu untuk tepekur, tanpa cukup ruang untuk kembali menapaki jejak-jejak sang takdir.. duniaku terhenti dalam detik ini, hanya terhenti dan tak bertindak.
seperti terjebak dalam satu bahasa, terjerembab dalam seluk-beluk cahaya temaram yang kadang menyesakan mata.. sangat menyesakan namun tak 'kan kuhiraukan. aku bertahan pada masa ini semata ingin memahami kerja para indera.. benar mendengarkan dan tidak hanya mendengar, benar memperhatikan dan bukan hanya melihat, sungguh benar merasakan dan bukan sekedar terasa.. kesemuanya fungsi indera untuk keluhan diri sendiri.
ego ini sedang tidak ingin berkompromi dengan apapun, dengan siapapun.. alter ego ini hadir tanpa peringatan, ia datang entah dari arah mana.. dan kali ini, kumohon biarkan aku mendengarkan keluhnya dalam peluh, biarkan aku mengukir percikan cahaya pada lingkaran penuh cahaya ini, jangan tahan aku untuk berkubang dalam hitamnya lulukku. tampaknya gamangnya kisah ini harus ada dan menjadi bagian dalam rona duniaku..
nurani ini sedang melambung tak tentu arah sehingga sulit untuk direngkuh dan aku lepaskan ia pada rasa ini.. 'ku lupakan sejenak sesuatu yang disebut logika, dan mungkin sang akal sehat pun sedang beristirahat di tempat ternyaman dalam rusuk.. dan aku tak mengharapkan mereka kembali pada fungsinya dalam kecepatan cahaya,, tetaplah di sana.. berikan ruang dan waktu untuk rasa ini..
rasa yang salah dan mencari pembenaran, rasa yang tak pernah berikan aku kuasa untuk menghindar.. rasa yang tanpa asa.. rasa yang menghentikan rotasi duniaku tepat di saat aku ingin terus berlari. aku hanya ingin memberontak dari kekisruhan ini, namun tetap saja 'ku hayati tiap warnanya, makin terpukau 'ku pada tiap kemilaunya,,
aku tidak memilih cawan ini untuk 'ku reguk, sungguh tidak. jangan persalahkan aku jika ternyata aku mengambilnya darimu.. sungguh ini hanya untuk sementara, hanya untuk saat ini.. ia akan kembali pada hulunya.. 'ku pastikan ia kembali padamu!
seperti terjebak dalam satu bahasa, terjerembab dalam seluk-beluk cahaya temaram yang kadang menyesakan mata.. sangat menyesakan namun tak 'kan kuhiraukan. aku bertahan pada masa ini semata ingin memahami kerja para indera.. benar mendengarkan dan tidak hanya mendengar, benar memperhatikan dan bukan hanya melihat, sungguh benar merasakan dan bukan sekedar terasa.. kesemuanya fungsi indera untuk keluhan diri sendiri.
ego ini sedang tidak ingin berkompromi dengan apapun, dengan siapapun.. alter ego ini hadir tanpa peringatan, ia datang entah dari arah mana.. dan kali ini, kumohon biarkan aku mendengarkan keluhnya dalam peluh, biarkan aku mengukir percikan cahaya pada lingkaran penuh cahaya ini, jangan tahan aku untuk berkubang dalam hitamnya lulukku. tampaknya gamangnya kisah ini harus ada dan menjadi bagian dalam rona duniaku..
nurani ini sedang melambung tak tentu arah sehingga sulit untuk direngkuh dan aku lepaskan ia pada rasa ini.. 'ku lupakan sejenak sesuatu yang disebut logika, dan mungkin sang akal sehat pun sedang beristirahat di tempat ternyaman dalam rusuk.. dan aku tak mengharapkan mereka kembali pada fungsinya dalam kecepatan cahaya,, tetaplah di sana.. berikan ruang dan waktu untuk rasa ini..
rasa yang salah dan mencari pembenaran, rasa yang tak pernah berikan aku kuasa untuk menghindar.. rasa yang tanpa asa.. rasa yang menghentikan rotasi duniaku tepat di saat aku ingin terus berlari. aku hanya ingin memberontak dari kekisruhan ini, namun tetap saja 'ku hayati tiap warnanya, makin terpukau 'ku pada tiap kemilaunya,,
aku tidak memilih cawan ini untuk 'ku reguk, sungguh tidak. jangan persalahkan aku jika ternyata aku mengambilnya darimu.. sungguh ini hanya untuk sementara, hanya untuk saat ini.. ia akan kembali pada hulunya.. 'ku pastikan ia kembali padamu!
terima kasih untuk tidak menghakimi
*kleeekk,, cheeesshh..
"ckckck,, ngebir mulu lo!"
"gak papalaahh,, lagi pusing nih.. banyak kerjaan"
"hehe iya, parah susahnya ketemu ama lo belakangan ini.. segitu gilanya ya kerjaan lo?"
"huuuhh,, iya sayangnya.."
"trus larinya ke bir?? hahaha"
"ya abiiiss ahahaha"
kaleng kedua..
"hmm.. gw mao crita boleh ga? tapiii lo pasti marah deh!"
"crita apaa?? masa iya gw marah kalo lo crita si?"
"hmm.. ga jadi deh besok-besok aja.. belom saatnya kali ya"
"ahh lo mahh.. ga seru ahh, keras banget kalii yee ampe 2 kaleng hehe"
"ahaha bisa dibilang begitu deh"
......
"gw jatuh cinta, nyet!"
"apaaaahh!!! ahaha ama sapaa?? akhirnyaaaaaaaa!!"
"hmm ama orang, yang seharusnya ga gw jatuhi cinta dah"
"loh? salahnya apa? pasti beda agama"
"ahahaha i dont mind kalo beda agama maahh.. ini beda frekuensi"
"hahh!! maxutnya?"
"he's someone else's property! ahaha kayak barang aja ahaha"
"haaahh?? ahahahaha"
"nah diketawain gw.. ahaha"
"well at least u admit that u fall in love.. segaknya gw masi liat secara langsung kalo lo punya hati dan hati lo masi bisa jatuh cinta"
"ahahaha im not planning to fall in love with him actually.. somehow it feels like i was trapped.. ahahhaa"
"trapped? by love? ahahaha"
"kereezziilahh.. and i meet him and miss him everyday"
"ahahahaa meet and miss?!! u are falling in love, indeed!! hmmm.. but he belongs to someone else yaa?? yaa.. not right emang sii but okay lahh.. siapa yang bisa atur hati,, ya kann"
"ahahahaha pembenaran!!"
"pacar orang doang kaan?? santay laahh.. biar berwarna hidup lo,, gak ngurusin kerjaan ama dengerin curhatan orang doang ahahaahaha,,"
"reseee... diem lo ahh"
.............
"sikat aja laahh,, berapa lama si pacarannya? hihihi kali aja jodohnya ama lo hihihi,, jadi penasaran gw mao liat mahluk yang bisa bikin lo gamang ahahahahaha"
"pacar? ahahaha.. dia terikat lembaga pemerintahan berdasarkan UU Nomor 1 tahun 1974, lengkap dengan alimentasi untuk 2 manusia.."
".... waaaaawww,, speechless gw"
"boleh mati aja ga sii!!!! gimana coba harus gw adepin ini?"
"ahahaha feel it, face it and decide! ooww.. dont forget to enjoy it! and i am still here, pasti!!"
*kleeekk,, dan kaleng ketiga melarutkan semua kekhawatirannya..
"ckckck,, ngebir mulu lo!"
"gak papalaahh,, lagi pusing nih.. banyak kerjaan"
"hehe iya, parah susahnya ketemu ama lo belakangan ini.. segitu gilanya ya kerjaan lo?"
"huuuhh,, iya sayangnya.."
"trus larinya ke bir?? hahaha"
"ya abiiiss ahahaha"
kaleng kedua..
"hmm.. gw mao crita boleh ga? tapiii lo pasti marah deh!"
"crita apaa?? masa iya gw marah kalo lo crita si?"
"hmm.. ga jadi deh besok-besok aja.. belom saatnya kali ya"
"ahh lo mahh.. ga seru ahh, keras banget kalii yee ampe 2 kaleng hehe"
"ahaha bisa dibilang begitu deh"
......
"gw jatuh cinta, nyet!"
"apaaaahh!!! ahaha ama sapaa?? akhirnyaaaaaaaa!!"
"hmm ama orang, yang seharusnya ga gw jatuhi cinta dah"
"loh? salahnya apa? pasti beda agama"
"ahahaha i dont mind kalo beda agama maahh.. ini beda frekuensi"
"hahh!! maxutnya?"
"he's someone else's property! ahaha kayak barang aja ahaha"
"haaahh?? ahahahaha"
"nah diketawain gw.. ahaha"
"well at least u admit that u fall in love.. segaknya gw masi liat secara langsung kalo lo punya hati dan hati lo masi bisa jatuh cinta"
"ahahaha im not planning to fall in love with him actually.. somehow it feels like i was trapped.. ahahhaa"
"trapped? by love? ahahaha"
"kereezziilahh.. and i meet him and miss him everyday"
"ahahahaa meet and miss?!! u are falling in love, indeed!! hmmm.. but he belongs to someone else yaa?? yaa.. not right emang sii but okay lahh.. siapa yang bisa atur hati,, ya kann"
"ahahahaha pembenaran!!"
"pacar orang doang kaan?? santay laahh.. biar berwarna hidup lo,, gak ngurusin kerjaan ama dengerin curhatan orang doang ahahaahaha,,"
"reseee... diem lo ahh"
.............
"sikat aja laahh,, berapa lama si pacarannya? hihihi kali aja jodohnya ama lo hihihi,, jadi penasaran gw mao liat mahluk yang bisa bikin lo gamang ahahahahaha"
"pacar? ahahaha.. dia terikat lembaga pemerintahan berdasarkan UU Nomor 1 tahun 1974, lengkap dengan alimentasi untuk 2 manusia.."
".... waaaaawww,, speechless gw"
"boleh mati aja ga sii!!!! gimana coba harus gw adepin ini?"
"ahahaha feel it, face it and decide! ooww.. dont forget to enjoy it! and i am still here, pasti!!"
*kleeekk,, dan kaleng ketiga melarutkan semua kekhawatirannya..
Monday, February 15, 2010
awal dan akhir
Kesemuanya akan berakhir dengan sedih
Kesemuanya akan berakhir dengan perih
Kesemuanya akan berakhir dengan sakit
Saat ini dapat tersenyum
Kala ini dapat tersipu
Masa ini dapat merona
Namun akhir telah dituliskan
Dan akhir pula dapat dipastikan
Ia jatuhkan cintanya pada anak manusia
Ia tetapkan kasihnya pada manusia itu
Tanpa alasan.. Tanpa akal
Kisah ini harus bergulir
Kisah ini harus terus dijalani
Walau sang akhir telah ditentukan
Lama mengecam rasa
Lama mengais asa
Sampai dunianya berhenti sejenak oleh sebab tatapan mata
Waktu yang menjebaknya
Kesempatan yang merengkuhnya
Tanpa daya ia menghadapinya
Ia jatuh hati
Pada dunia yang nyata fana.. Tiada abadi
Pada anak manusia yang hadir dalam malamnya
Sentuhan hangat yang diingkarinya mendesaknya pada nyaman
Pelukan kisah yang diacuhkannya melesaknya pada jiwa
Kecupan hati yang dibentenginya serta merta melunturkan sang asa
Mencintainya dengan cinta
Menyayanginya dengan sayang
Mengasihinya dengan kasih
Biarlah ini ada karena harus ada
Biarlah ini terjadi karena harus terjadi
Harap akan sang jiwa mendewasakannya
Bergulirlah,,
Berperanlah,,
Sampai jumpa pada akhir dari awal
Dan awal pada akhir..
Sebab keseluruhan akan menggenapi pencariannya
Pencarian pada jiwanya
Pencarian pada perannya
Karena hanya cinta yang tak akan pernah salah
Kini, esok, dan sampai akhir hayatnya..
Kesemuanya akan berakhir dengan perih
Kesemuanya akan berakhir dengan sakit
Saat ini dapat tersenyum
Kala ini dapat tersipu
Masa ini dapat merona
Namun akhir telah dituliskan
Dan akhir pula dapat dipastikan
Ia jatuhkan cintanya pada anak manusia
Ia tetapkan kasihnya pada manusia itu
Tanpa alasan.. Tanpa akal
Kisah ini harus bergulir
Kisah ini harus terus dijalani
Walau sang akhir telah ditentukan
Lama mengecam rasa
Lama mengais asa
Sampai dunianya berhenti sejenak oleh sebab tatapan mata
Waktu yang menjebaknya
Kesempatan yang merengkuhnya
Tanpa daya ia menghadapinya
Ia jatuh hati
Pada dunia yang nyata fana.. Tiada abadi
Pada anak manusia yang hadir dalam malamnya
Sentuhan hangat yang diingkarinya mendesaknya pada nyaman
Pelukan kisah yang diacuhkannya melesaknya pada jiwa
Kecupan hati yang dibentenginya serta merta melunturkan sang asa
Mencintainya dengan cinta
Menyayanginya dengan sayang
Mengasihinya dengan kasih
Biarlah ini ada karena harus ada
Biarlah ini terjadi karena harus terjadi
Harap akan sang jiwa mendewasakannya
Bergulirlah,,
Berperanlah,,
Sampai jumpa pada akhir dari awal
Dan awal pada akhir..
Sebab keseluruhan akan menggenapi pencariannya
Pencarian pada jiwanya
Pencarian pada perannya
Karena hanya cinta yang tak akan pernah salah
Kini, esok, dan sampai akhir hayatnya..
Subscribe to:
Posts (Atom)