biarkan aku menyeruput segumpal karbon dioksida dari sudut ini. sungguh aku lelah berputar pada pusaran labirin yang pekat, tak berujung dan tak berpangkal.salahkan aku yang memutuskan untuk menapakinya, terkungkung di dalamnya dengan sejuta keingintahuanku tentang keberadaannya. ya, saat itu aku putuskan untuk menapaki labirin ini dan akan aku sesapi seluruh pelik dan peluknya.
sungguh aku tidak menyerah padanya, aku hanya ingin terpojok di sini, terpuruk dalam sudut kengeriannya. menikmatinya... menatapi dan meratapinya dalam siang dan malam. labirin ini penuh dengan dinding yang sama dan tak pernah berubah, ruang yang sama penuh liku, sungguh sudah aku lafalkan keseluruhannya. kini aku menerawang menyapa bintang pada malam, berharap tetap ditemani meski berjarak sejauh itu, yah.. setidaknya aku tidak sendirian.
bahkan keingintahuanku sampai saat ini belum terjawab, sungguh jejak langkahku dalam labirin ini tak kunjung usai. hanya perasaan yang terbangun, di suatu masa serasa ruang yang ini belum aku jelajahi, walau pada detik berikutnya aku yakin bahwa sungguh jejak langkahku masih tertoreh pada dasar ruang ini. membingungkan. mengesalkan.
kini aku marah pada jiwa ini. marah pada labirin yang tak berkesudahan ini. andai sebuah tangisan dapat menyelesaikan segalanya.. andai bintang itu dapat menunjukkan akhir dari labirin ini.. andai aku temukan jawabannya di sudut sana tepat setelah jalan menikung di depanku.. andai.. andai.. lagi-lagi hanya sebatas pengandaian.
pengulangan yang sama, candu yang sama. labirin ini jelas menyihirku dengan pesonanya. memabukkan.
jamak anak manusia akan berujar bahwa kumpulan kosa kata ini merupakan dramatisasi dari kisah yang sebenar-benarnya, sangkalan atas gugatan tersebut adalah sebuah pembenaran akan kebebasan berapresiasi di dunia maya
Tuesday, September 27, 2011
Thursday, September 22, 2011
membiru
dalam kecamuk kelam dan kisruhnya ruang fana aku terjerembab dalam segenggam ketenangan. ketika duniaku dipenuhi roda waktu yang berpacu dalam liku, menukik tajam dalam pembuluh siang dan menggelayut hebat dalam gelapnya malam, ternyata tanpa sadarku ada sejumput keriaan yang tak terujarkan. ia tak semewah secangkir kopi, tak sesemarak taburan bintang pada langit, hanya sebuah petaka biru dalam padatnya detik yang melaju, terselip manis dalam sebuah percakapan. meronakan sebutir senyum dalam peliknya rutinitas, sungguh hanya untuk berbagi dan bernyanyi.
kisahnya mengadiksiku tanpa sebab, dendamnya menyayatkan arti persahabatan, keduanya terproyeksi sebagai sebuah kekaguman untuknya. pengetahuannya akan kesalahan dan keangkuhan mengetarkan sisi kemanusiaaku. membangkitkan emosi tanpa erosi, membuatku lekas-lekas mengerenyitkan dahi dan membakar batang berikutnya dari kotak hijau-hitam. mendebatnya dengan singit dengan segala pengetahuan hidupku, menegaskan kelugasan yang 'ku miliki tanpa cadar yang harus 'ku kenakan.
atas kerumitan argumentasi, lagi-lagi dirinya berjaya akan aku. mengemasnya dalam tawa yang adiktif, sungguh sebuah kekalahan yang aku alami berulang kali yang dengan cerdasnya dikemas tanpa kesenjangan. serupa rajaman nikotin yang berharu-biru dalam ikatan-ikatan hemoglobin, menyesakkan dan mencanduinya dalam satu satuan waktu yang sama.
dengar.. jangan mengurangi jarak yang ada, tetaplah pada lingkupmu dan aku akan bertahan dalam rentang ini. sungguh jangan mendekat, jangan biarkan aku tercekat pada pesonamu dan acuhkan saja aku dalam kebiruanku ini. setidaknya ini upaya terakhirku untuk menyusun kembali tingkap-tingkap keselamatan hatiku yang lama rapuh.
kisahnya mengadiksiku tanpa sebab, dendamnya menyayatkan arti persahabatan, keduanya terproyeksi sebagai sebuah kekaguman untuknya. pengetahuannya akan kesalahan dan keangkuhan mengetarkan sisi kemanusiaaku. membangkitkan emosi tanpa erosi, membuatku lekas-lekas mengerenyitkan dahi dan membakar batang berikutnya dari kotak hijau-hitam. mendebatnya dengan singit dengan segala pengetahuan hidupku, menegaskan kelugasan yang 'ku miliki tanpa cadar yang harus 'ku kenakan.
atas kerumitan argumentasi, lagi-lagi dirinya berjaya akan aku. mengemasnya dalam tawa yang adiktif, sungguh sebuah kekalahan yang aku alami berulang kali yang dengan cerdasnya dikemas tanpa kesenjangan. serupa rajaman nikotin yang berharu-biru dalam ikatan-ikatan hemoglobin, menyesakkan dan mencanduinya dalam satu satuan waktu yang sama.
dengar.. jangan mengurangi jarak yang ada, tetaplah pada lingkupmu dan aku akan bertahan dalam rentang ini. sungguh jangan mendekat, jangan biarkan aku tercekat pada pesonamu dan acuhkan saja aku dalam kebiruanku ini. setidaknya ini upaya terakhirku untuk menyusun kembali tingkap-tingkap keselamatan hatiku yang lama rapuh.
Monday, September 19, 2011
waktuku
kemana sang waktu? pergi kemana ia? sirna kemana ia? sibuk aku mencarinya, namun hilang saja dia tanpa jejak, tanpa asap. ujarnya ia akan menetap, berdiam ramah dalam selubung yang tersirat dalam degup darah dan hela napas. lalu aku mencarinya... mencarinya dan terus mencarinya... menyibakkan tabir kenisah dalam gelisah, tanpa sejumput pesan, ia lenyap tanpa sebab.
kilaunya masih terasa sampai lubuk mata, kecapnya masih tertinggal dalam rupa bisikan lirih, sulit terlupakan, sulit terungkapkan. dan aku berkutat disini tanpa gerak meski dalam senyap. menantinya tanpa aturan, merenungkannya dengan melawan hukum. dimana gerangan dirinya?
geram ini jatuh luluh dalam tatap matanya. bayangankah? fatamorganakah? benarkah sang waktu yang sibuk itu bersemayam dalam kilat matanya. saat ia memicing, jelas aku temukan sang waktuku dalam rupa sinisnya. benarkah ini akhir pencarianku? dalam bentuk yang berbedakah kali ini dirimu bernaung, hai sang waktu? berikan sedikit saja tanda. bersitkan sedikit saja kata, yakinkan aku kali ini... sungguh lelah jiwa ini menemukanmu.
dimana kamu sang waktuku? jangan permainkan aku lagi kali ini. terlampau rutin aku gagal, hingga bersua sang nadir. deru luka lama belum juga pulih darimu, maka rendah hatilah kali ini padaku. biarkan aku bersandar sejenak dalam kamu, tanpa harap, tanpa janji-janji belaka.
kilaunya masih terasa sampai lubuk mata, kecapnya masih tertinggal dalam rupa bisikan lirih, sulit terlupakan, sulit terungkapkan. dan aku berkutat disini tanpa gerak meski dalam senyap. menantinya tanpa aturan, merenungkannya dengan melawan hukum. dimana gerangan dirinya?
geram ini jatuh luluh dalam tatap matanya. bayangankah? fatamorganakah? benarkah sang waktu yang sibuk itu bersemayam dalam kilat matanya. saat ia memicing, jelas aku temukan sang waktuku dalam rupa sinisnya. benarkah ini akhir pencarianku? dalam bentuk yang berbedakah kali ini dirimu bernaung, hai sang waktu? berikan sedikit saja tanda. bersitkan sedikit saja kata, yakinkan aku kali ini... sungguh lelah jiwa ini menemukanmu.
dimana kamu sang waktuku? jangan permainkan aku lagi kali ini. terlampau rutin aku gagal, hingga bersua sang nadir. deru luka lama belum juga pulih darimu, maka rendah hatilah kali ini padaku. biarkan aku bersandar sejenak dalam kamu, tanpa harap, tanpa janji-janji belaka.
Thursday, July 21, 2011
dimatikan
pada alur ini, aku memutuskan untuk keluar dari cerita.. kisahnya masih bergulir meliuk bersama arus yang kadang terjal namun kadang membuai. sedangkan aku? aku telah menyingkirkan diriku sendiri dari gugusan kisah itu. peranku dimatikan oleh sang penulis. selesai.
aku selesai sebelum aku menjadi pengganggu, aku dibunuh sebelum aku mulai menjadi pengerat dan aku dihilangkan sesaat ketika aku berpikir akan merengek, memohon dan memelas.. tersungkur bersimpuh di bawah kaki si pemeran utama yang berkepribadian-ganda. aku tepat dibuang dari pigura novel ini sebelum aku menjadi terlalu antagonis dan melankolis.
kini aku berdiri di luar buku yang bersampul manis dengan warna merah jingga. dalam getir dan pahit di sudut ini aku tersenyum. sedikit mengembang oleh sebab peranku nyata memadatkan keindahan kisah tak berujung meski aku tak pernah mencapai ujung. banyak bangga oleh sebab aku cukup berani untuk dimatikan, sebelum sungguh aku menjadi duri perengek dalam buku kisah cinta mereka meski harus menyeberangi selat malaka.
aku selesai sebelum aku menjadi pengganggu, aku dibunuh sebelum aku mulai menjadi pengerat dan aku dihilangkan sesaat ketika aku berpikir akan merengek, memohon dan memelas.. tersungkur bersimpuh di bawah kaki si pemeran utama yang berkepribadian-ganda. aku tepat dibuang dari pigura novel ini sebelum aku menjadi terlalu antagonis dan melankolis.
kini aku berdiri di luar buku yang bersampul manis dengan warna merah jingga. dalam getir dan pahit di sudut ini aku tersenyum. sedikit mengembang oleh sebab peranku nyata memadatkan keindahan kisah tak berujung meski aku tak pernah mencapai ujung. banyak bangga oleh sebab aku cukup berani untuk dimatikan, sebelum sungguh aku menjadi duri perengek dalam buku kisah cinta mereka meski harus menyeberangi selat malaka.
Monday, July 11, 2011
RuangBiru
Ruang itu biasa aku sambangi pada waktu lalu, biasa memelukku erat pada hari lalu. Menyapa kenyamananku pada bidang persegi khas dengan warna biru hangat yang memanjakan mataku. Ruang itu lengkap dengan bebunyian yang sangat mudah aku lafalkan, setia menyapa genderang telingaku untuk menyampaikan pesan manis pada neuron-neuron dan pada detik berikutnya gumamanku menjadikan nada pengiring yang mencerahkan vena.
Memompakan para hemoglobin lebih cepat ke dua belah pipi, meronakannya dan menampilkan semburat tipis menandakan senyum dalam irama yang sempurna. Ruang itu dipersenjatain oleh bentuk-bentuk penyerap cahaya yang siap benderang cemerlang ketika bola lampu dipadamkan. Kembali Ruang itu membawaku jauh pada langit-langit malam yang artifisial, mendekapku dalam gubahan kerling orion yang tak sedetikpun memperbolehkan aku lepas memujanya.
Ruang biru itu mendayu dalam kelam pekat ditemani oleh bintang temaram yang ikut menari dalam irama petikan gitar terus menyihirku untuk kembali. Disempurnakan oleh bebauan yang menyeruak masuk dalam dinding-dinding tenggorok, berdesir bersama alveoli-alveoli pulmo. Pada tiap semerbaknya dapat aku kenali keberadaannya dengan jelas walau pengelihatan ini termampatkan.
Malam ini, aku berjarak tiga langkah pada sang Ruang. Tanpa perintah maupun kebolehan untuk menjejak kembali. Tiga langkah dari kenyamanan abadiku yang selama ini disirnakan oleh kamu. Kamu yang lagi-lagi tanpa penjelasan akan kehausanku pada himpitan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Kamu kembali membatasiku, menahan kerinduanku pada sang Ruang. Menyisakan aku yang hanya terpaku berdiri tak beranjak, hanya merapat pada dinding sisi luar dari sang Ruang. Sungguh aku termangu di situ, tanpa butiran kata.
Jangan persalahkan aku kali ini, rinduku membuncah tanpa arah. Bulir-bulir tangis ini sekali lagi menemaniku seorang diri. Semoga kali ini bukan lagi dosa sebab aku merindumu dalam redupnya kesedihan dan kesepian.
*11 Juli 2011, untuk kamu yang jumawa
Memompakan para hemoglobin lebih cepat ke dua belah pipi, meronakannya dan menampilkan semburat tipis menandakan senyum dalam irama yang sempurna. Ruang itu dipersenjatain oleh bentuk-bentuk penyerap cahaya yang siap benderang cemerlang ketika bola lampu dipadamkan. Kembali Ruang itu membawaku jauh pada langit-langit malam yang artifisial, mendekapku dalam gubahan kerling orion yang tak sedetikpun memperbolehkan aku lepas memujanya.
Ruang biru itu mendayu dalam kelam pekat ditemani oleh bintang temaram yang ikut menari dalam irama petikan gitar terus menyihirku untuk kembali. Disempurnakan oleh bebauan yang menyeruak masuk dalam dinding-dinding tenggorok, berdesir bersama alveoli-alveoli pulmo. Pada tiap semerbaknya dapat aku kenali keberadaannya dengan jelas walau pengelihatan ini termampatkan.
Malam ini, aku berjarak tiga langkah pada sang Ruang. Tanpa perintah maupun kebolehan untuk menjejak kembali. Tiga langkah dari kenyamanan abadiku yang selama ini disirnakan oleh kamu. Kamu yang lagi-lagi tanpa penjelasan akan kehausanku pada himpitan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Kamu kembali membatasiku, menahan kerinduanku pada sang Ruang. Menyisakan aku yang hanya terpaku berdiri tak beranjak, hanya merapat pada dinding sisi luar dari sang Ruang. Sungguh aku termangu di situ, tanpa butiran kata.
Jangan persalahkan aku kali ini, rinduku membuncah tanpa arah. Bulir-bulir tangis ini sekali lagi menemaniku seorang diri. Semoga kali ini bukan lagi dosa sebab aku merindumu dalam redupnya kesedihan dan kesepian.
*11 Juli 2011, untuk kamu yang jumawa
Monday, July 4, 2011
(maha)karya
dalam perjalanan ini sudah terbayang dalam benakku sebuah rangkaian bait dengan tarian not balok yang tak pernah aku mengerti. aku perdengarkan berulang-ulang untuk memastikan patahan-patahan iramanya tepat dengan deskripsi yang akan aku selipkan didalamnya. untaian nadanya benar tepat sejajar dengan kecepatan dan percepatan gerbong-gerbong besi yang mengantarku kembali ke bilik privatisasi ruangku.
malam itu aku sibuk menghamburkan kertas, menuliskan barisan huruf yang berpadu memberi arti meski tanpa makna. menorehkan pada satu sisi dan menegaskannya di sisi yang lain.. mengabadikannya dalam cermin teknologi berpadu dalam selipan irama dalam gubahan karya yang telah aku jatuhkan pilihan sebagai bingkai bernada.
aku melakukannya dengan sepenuh hati tanpa pernah aku sadari. aku menciptakannya dengan senyuman tertulus dan tarian jemari yang gemilang tanpa pernah aku duga akibat akan segala karyaku itu. aku lepaskan helaan manis dan raut kebanggaan pada saat aku nyatakan karyaku sempurna, setidaknya sempurna bagiku. aku menjadikannya sesempurna benakku, tersenyum saat menyelesaikannya dan tersipu pada saat pengalihannya tepat di hadapmu. sebuah ciptaan sempurna untuk sahabatku.
setelah pengalihannya, kini aku menyingkir.. menjauh daripadamu dengan tertunduk. kembali tertunduk untuk sekian kalinya. aku hanya dapat meratapi tiap tetes peluh dan tiap jengkal keluh yang berkecamuk hebat dalam rongga hati dengan getaran infrasonik. memekik tajam dalam diam.
maafkan aku sahabat, kita tak akan pernah benar bersahabat karena aku tidak dapat menepiskan cinta ini yang terlampir tepat pada dirimu.
*20110604 - the birthday song by corrinne may*
malam itu aku sibuk menghamburkan kertas, menuliskan barisan huruf yang berpadu memberi arti meski tanpa makna. menorehkan pada satu sisi dan menegaskannya di sisi yang lain.. mengabadikannya dalam cermin teknologi berpadu dalam selipan irama dalam gubahan karya yang telah aku jatuhkan pilihan sebagai bingkai bernada.
aku melakukannya dengan sepenuh hati tanpa pernah aku sadari. aku menciptakannya dengan senyuman tertulus dan tarian jemari yang gemilang tanpa pernah aku duga akibat akan segala karyaku itu. aku lepaskan helaan manis dan raut kebanggaan pada saat aku nyatakan karyaku sempurna, setidaknya sempurna bagiku. aku menjadikannya sesempurna benakku, tersenyum saat menyelesaikannya dan tersipu pada saat pengalihannya tepat di hadapmu. sebuah ciptaan sempurna untuk sahabatku.
setelah pengalihannya, kini aku menyingkir.. menjauh daripadamu dengan tertunduk. kembali tertunduk untuk sekian kalinya. aku hanya dapat meratapi tiap tetes peluh dan tiap jengkal keluh yang berkecamuk hebat dalam rongga hati dengan getaran infrasonik. memekik tajam dalam diam.
maafkan aku sahabat, kita tak akan pernah benar bersahabat karena aku tidak dapat menepiskan cinta ini yang terlampir tepat pada dirimu.
*20110604 - the birthday song by corrinne may*
penghakimanku
aku menghakimimu. ya.. aku menghakimi dirimu dalam sebuah aklamasi. keriaanmu telah aku padamkan dalam jarak secangkir kopi dan sebatang rokok. kesukaanmu sungguh telah aku bungkam tanpa kebolehan daripadamu. aku sungguh muak akan muluknya duniamu yang dengan penuh kesadaran menciderai hati yang kamu untai sendiri.
tarian percintaanmu tak ubahnya dengan perzinahan keduniawian. pelukan hangatmu menajiskan tahta lembaga perikatan yang kabarnya diatasnamakan dengan cinta sejati. aku memang tidak pernah percaya cinta sejati. aku memang tidak pernah percaya kesetiaan abadi, toh kesemuanya hanya sebuah permainan politik.. selalu bersama jika masih bermanfaat. oportunis, dan tidak pernah lebih mulia dari itu. aku apatis akan cinta? ya.
kamu menukarnya dengan manusia baru. manusia baru yang menurut pengelihatan fanamu jelas jauh melebihi kesempurnaan cintamu yang lalu. lembaga perikatan itu mungkin amat membosankan bagimu, terlampau membebaskan dan tanpa aturan. setidaknya itu yang dapat aku sarikan pada perbincangan kita kemarin dan kemarin lagi. kamu menemukan hati yang baru, cinta yang baru dengan banyak aturan dan kerapian yang jumawa. lalu kemudian kamu tukar kebebasan itu dengan rintihan aturan tanpa ujung. itu cinta? teori apalagi kali ini?! bukankah cinta itu membebaskan??
dalam pertanyaan atas cintamu ini, aku masih menunggu argumentasimu, penjelasanmu dan penjabaran berakal atas sikap polahmu yang sungguh menistakan nuraniku. jabarkan pembenaranmu atas legalitas cinta sejati itu kepadaku. deskripsikan nelangsamu akan pencarianmu pada sang kekal, pula kerinduanmu akan sang khalik. sepengetahuanku, semestinya perkara itu menjadi perkara pribadimu dengan sang esa. bahkan kamu tidak memerlukan agama untuk bercakap dengannya. lalu lihat sikapmu kali ini, kembali menyebut diri telah disalib bersamanya setelah dalam sepasang tahun yang lewat menyembahnya dengan khiblat ke arah barat!
aku menghamikimu kali ini. hati lamamu yang siap kamu singkirkan melalui meja hijau itu sungguh kebetulan memujanya pada keagungan jumat. sedang pujaan hatimu yang kini sungguh kebetulan bermazmur pada kemurnian minggu. aku menghubungkan keduanya tanpa alasan mengada-ada. hanya sebatas gunjingan kecurigaaan yang menggelitik serat logika pada kepulan aroma dari secangkir kopi.
coba runutkan padaku koneksitas antara penemuan cinta sejati pada kekasih barumu ini dan alasan spektakuler dalam kerinduanmu akan pencipta semesta. sungguh pendosa ini menghakimimu atas dasar keapatisan cinta dan tanpa teori keagamaan yang cemerlang. aku hanya sebentuk pendosa tanpa pengampunan akan jiwa raga. pembenaran perjudianmu akan cinta dan agama seketika memampatkan kemanusiaanku.
dalam penghakimanku ini tolong jawab rentetan pertanyaanku atas sikapmu.. "dimana nuranimu, malaikat hitam?"
tarian percintaanmu tak ubahnya dengan perzinahan keduniawian. pelukan hangatmu menajiskan tahta lembaga perikatan yang kabarnya diatasnamakan dengan cinta sejati. aku memang tidak pernah percaya cinta sejati. aku memang tidak pernah percaya kesetiaan abadi, toh kesemuanya hanya sebuah permainan politik.. selalu bersama jika masih bermanfaat. oportunis, dan tidak pernah lebih mulia dari itu. aku apatis akan cinta? ya.
kamu menukarnya dengan manusia baru. manusia baru yang menurut pengelihatan fanamu jelas jauh melebihi kesempurnaan cintamu yang lalu. lembaga perikatan itu mungkin amat membosankan bagimu, terlampau membebaskan dan tanpa aturan. setidaknya itu yang dapat aku sarikan pada perbincangan kita kemarin dan kemarin lagi. kamu menemukan hati yang baru, cinta yang baru dengan banyak aturan dan kerapian yang jumawa. lalu kemudian kamu tukar kebebasan itu dengan rintihan aturan tanpa ujung. itu cinta? teori apalagi kali ini?! bukankah cinta itu membebaskan??
dalam pertanyaan atas cintamu ini, aku masih menunggu argumentasimu, penjelasanmu dan penjabaran berakal atas sikap polahmu yang sungguh menistakan nuraniku. jabarkan pembenaranmu atas legalitas cinta sejati itu kepadaku. deskripsikan nelangsamu akan pencarianmu pada sang kekal, pula kerinduanmu akan sang khalik. sepengetahuanku, semestinya perkara itu menjadi perkara pribadimu dengan sang esa. bahkan kamu tidak memerlukan agama untuk bercakap dengannya. lalu lihat sikapmu kali ini, kembali menyebut diri telah disalib bersamanya setelah dalam sepasang tahun yang lewat menyembahnya dengan khiblat ke arah barat!
aku menghamikimu kali ini. hati lamamu yang siap kamu singkirkan melalui meja hijau itu sungguh kebetulan memujanya pada keagungan jumat. sedang pujaan hatimu yang kini sungguh kebetulan bermazmur pada kemurnian minggu. aku menghubungkan keduanya tanpa alasan mengada-ada. hanya sebatas gunjingan kecurigaaan yang menggelitik serat logika pada kepulan aroma dari secangkir kopi.
coba runutkan padaku koneksitas antara penemuan cinta sejati pada kekasih barumu ini dan alasan spektakuler dalam kerinduanmu akan pencipta semesta. sungguh pendosa ini menghakimimu atas dasar keapatisan cinta dan tanpa teori keagamaan yang cemerlang. aku hanya sebentuk pendosa tanpa pengampunan akan jiwa raga. pembenaran perjudianmu akan cinta dan agama seketika memampatkan kemanusiaanku.
dalam penghakimanku ini tolong jawab rentetan pertanyaanku atas sikapmu.. "dimana nuranimu, malaikat hitam?"
Subscribe to:
Posts (Atom)